Ambon (Antara Maluku) - Sebanyak 20 anggota keluarga veteran tentara persemakmuran (Gull Force) asal Australia yang gugur pada Perang Dunia II menggelar upacara di Ambon, Maluku, Senin, memperingati 67 tahun pembebasan keluarganya dari tahanan Jepang tahun 1945.

Upacara peringatan yang berlangsung di Taman Makam Persemakmuran di kawasan Tantui Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, dipimpin Presiden Organisasi Gull Force, Des O'Brien serta Sekretaris Sue Head.

Isak tangis mengiringi upacara yang berlangsung  sekitar 45 menit tersebut saat lagu kebangsaan Australia "Advance Australian Fair" dinyanyikan paduan Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Ambon.

Selain itu, peletakkan karangan bunga pada tugu "Memorial Building Ambon" oleh seluruh anggota keluarga veteran, termasuk pada nisan makam anggota keluarga masing-masing.

"Memorial Building Ambon" dibangun untuk memperingati 289 tentara dan 171 penerbang kesatuan Australia yang gugur di Maluku, Sulawesi dan Kepulauan sekitarnya saat Perang Dunia (PD) II tahun 1941-1945, dan belum diketahui serta ditemukan jenazahnya hingga saat ini.

Nama-nama mereka terpampang pada sisi kiri-kanan dinding bangunan "Memorial Building Ambon" itu, lengkap dengan pangkat, tanggal lahir dan umurnya saat gugur dalam PD II.

Isak tangis semakin tidak terbendung saat masing-masing keluarga melihat dan menyaksikan nisan keluarga mereka yang tertata serta terpelihara dengan baik di Taman Persemakmuran seluas empat hektar itu.

Sedikitnya 694 orang tentara Australia dari total 1.131 orang tentara yang berasal dari Batalyon 2/21 Australia Gull Force, gugur saat berperang melawan tentara Jepang pada tahun 1941 di Ambon, dan dimakamkan di Taman Persemakmuran Tantui, sedangkan yang bisa selamat dan kembali ke negaranya sebanyak 232 orang.

Lokasi Taman Makam Persemakmuran Kapahaha "War Cemetery" di kawasan Tantui, saat Perang Dunia II, merupakan lokasi kam tahanan tentara negara-negara persemakmuran oleh tentara Jepang.

Des O'Brien menegaskan, peringatan pembebasan tentara Australia itu dilakukan setiap 10 September bertepatan dengan tanggal pembebasan keluarga mereka yang disandera Jepang pada tahun 1945.

Peringatan di Ambon ini tahun ini merupakan yang keenam kalinya dilakukan, paska konflik sosial melanda Ambon dan Maluku tahun 1999.

Sebelum konflik juga kegiatan ini terus digelar termasuk, Anzac Day pada 25 April setiap tahun. Tetapi akibat kondisi keamanan yang tidak menentu di Ambon, akhirnya ditunda dan baru digelar kembali pada 2007, setelah kondisi dirasakan aman.

"Jadi setiap tahun keluarga para veteran akan berkunjung ke Ambon untuk mengenang akan penderitaan dan perjuangan orang tua, kakek dan ayah kami yang gugur di Ambon semasa jaman PD II," katanya.

Des O'Brien mengakui, keluarga veteran perang Australia datang ke Ambon setiap tahun sekali untuk memperingatinya. "Ini bagian sejarah dan memori keluarga kami yang tidak bisa dilupakan. Peristiwa ini akan terus dikenang sepanjang hidup kami," katanya.

Kehadiran mereka pun sekaligus untuk mengenang persahabatan, kebaikan dan pertolongan warga di Ambon terhadap keluarga mereka saat menjadi tahanan tentara Jepang.

"Warga Ambon sering memberikan bantuan makanan, air minum maupun obat-obatan bagi tentara Australia yang ditahan Jepang. Bahkan banyak warga Ambon yang membantu menyembunyikan anggota keluarga kami yang melarikan diri dari tahanan saat itu, hingga akhirnya di selamatkan dan dipulangkan ke Australia," katanya.

Des O'Brien juga mengakui pemerintah dan masyarakat Ambon memiliki hubungan baik dengan organisasi para veteran perang Gull Force, maupun dengan pemerintah Australia karena berjasa selama masa perang, di mana hubungan persahabatan dan persaudaraan itu terus ditingkatkan.

"Ini kenangan yang tidak bisa dilupakan. Kami akan datang setiap saat ke Ambon untuk memperingati peristiwa ini sebagai bagian dari sejarah, sekaligus momentum yang mengikat hubungan kami dengan masyarakat Ambon. Kami akan tetap mengenang kebaikan dan keramahan orang-orang Ambon terhadap keluarga kami semasa penjajahan," ujar Des O'Brien.


Pewarta: James F. Ayal
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026