Kadis Dikpora Maluku, Semmy Risambessy di Ambon, Selasa, mengatakan, kecenderungan ini bisa terlihat dari tingkat kelulusan siswa saat Ujian Nasional atau ujian sekolah yang lebih tinggi dibandingkan para guru yang tidak lulus Uji Kompetensi Guru (UKG).
"Menyangkut mutu pendidikan, kami menyadari sungguh memang ada semacam paradoks. Artinya, di satu sisi kompetensi guru dari hasil UKG tahun ini cukup rendah, padahal yang diuji hanyalah dua kompetensi yakni pedagogig dan kompetensi profesisional," katanya.
Biasanya ada empat jenis kompetensi yang diuji terhadap para guru, diantaranya kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian.
Namun dua jenis kompetensi yang diuji kemarin ini adalah pedagogig menyangkut program persiapan khusus belajar mengajar dan mencakup kurikulim serta kompetensi profesional dalam rangka pengembangan kepribadian diri.
Di satu sisi, uji kompetensi guru di Maluku memang di bawah standar nasional karena nilainya harus di atas angka 70, kemudian lulusannya hanya 99,67 persen sehingga terjadi paradoks.
"Itu berarti ada siswa yang berusaha mencari internet atau sumber-sumber belajar lain untuk menambah reverensi pengetahuan mereka, tapi sebaliknya ada guru yang tidak membuka akses internet guna menambah pengetahuannya," jelas Risambessy.
Program komputerisasi dan pembukaan jaringan atau akses internet sekarang sudah merambah banyak sekolah, maka keberadaan perangkat seperti ini seharusnya dimanfaatkan oleh para guru juga untuk ikut mengembangkan diri.
Karena soal-soal yang ada dalam UKG misalnya terdapat 100 nomor, maka waktu kerjanya juga 100 menit jadi memerlukan ketrampilan menguasai teknologi informasi dan kecepatan untuk mengisi setiap jawaban yang ada.
Pewarta: Daniel Leonard: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.