Raja (kepala desa) Negeri Mamala, Abdullah Malawat, di Ambon, Rabu, mengatakan, pihaknya memrogramkan budidaya tanaman enau agar kebutuhan sapu lidi untuk proses pukul sapu terjamin.
"Tanaman enau di Mamala jumlahnya relatif terbatas, sehingga menjelang pergelaran pukul sapu harus mencari di desa tetangga lainnya di pulau Ambon," ujarnya.
Dia bersyukur saat pergelaran pukul sapu 26 Agustus 2012 negerinya mendapat bantuan sapu lidi dari negeri Passo, kecamatan Baguala, Kota Ambonk, yang memang memiliki pertalian persaudaraan dengan masyarakat Negeri Mamala.
"Kami apresiasi kesediaan basudara Kristen di Passo yang membantu menyediakan sapu lidi dari pohon enau di sana," kata Abdullah.
"Karena itu kami sekarang memrrogramkan budidaya tanaman enau di Mamala sebagai bagian dari upaya melestarikan adat istiadat warisan leluhur," tambahnya.
Tanaman enau juga bermanfaat untuk produksi gula aren, sopi (tuak), sapu lidi, dan gemutu (lembaran di pohon) bisa dijadikan tali maupun penyaring air di dalam sumur.
"Atas pertimbangan nilai budaya dan ekonomis itulah kami ingin membudidayakan tanaman di negeri ini," ujar Abdullah Malawat.
Tradisi pukul sapu di Mamala yang telah mendunia ini dilakukan secara turun-temurun untuk mengenang keberhasilan warga desa setempat membangun Masjid tanpa menggunakan "Ping" atau pada abad 17 lalu.
Ihwal cerita, usai perang Kapahaha (1637-1646), rakyat Mamala diperintahkan oleh Belanda untuk turun dari Gunung (negeri mamala lama) dan mendirikan kampung di pesisir bersama masjid agar mudah diawasi.
Saat membangun mesjid warga kesulitan menyambung kayu-kayunya menyebabkan pekerjaannya terbengkalai. Imam Tuni--seorang tokoh agama saat itu--kemudian melakukan puasa selama beberapa hari untuk memperoleh petunjuk yang diberikan dalam mimpinya saat tidur.
Dalam mimpinya, Imam Tuni disuruh menyambung kayu-kayu tersebut dengan menggunakan minyak "Nyualaing Matetu" atau yang lebih dikenal dengan minyak "Tasala" (keseleo-red). Minyak ini kemudian digunakan untuk membasahi potongan kain putih yang digunakan menyambung kayu yang digunakan untuk membangun masjid.
Hal ini dapat dibuktikan saat pembongkaran mesjid tua di Desa itu, di mana ditemukan potongan kain putih pada setiap sambungan kayu dan tiang dan tidak menggunakan "Ping" atau paku. Satu-satunya kayu yang menggunakan paku adalah Tiang Alif pada mesjid tua itu.
Minyak tersebut oleh kalangan masyarakat di Ambon atau Maluku pada umumnya lebih dikenal dengan sebutan "minyak Mamala". Khasiat minyak ini memang terbukti ampuh untuk mengobati penyakit patah tulang dan keseleo.
Untuk membuktikan keampuhannya ini, maka dilakukan ujicoba pemukulan dengan menggunakan batang lidi mentah pohon aren. Hasilnya ternyata luka akibat tersabet lidi tersebut menjadi sembuh setelah dioles minyak "Nyualaing Matetu".
Minyak inilah yang akhirnya digunakan untuk mengobati luka para peserta yang mengikuti tradisi pukul sapu. Hanya dalam tempo dua atau tiga hari luka tersebut akan mengering dan tidak meninggalkan bekas.
Keberhasilan ini kemudian dirayakan dengan memilih waktu tepat berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW untuk dilaksanakan yakni hari raya ketujuh atau 7 Syawal setelah Idul Fitri dengan tradisi Pukul Sapu.
Pewarta: Lexy Sariwating: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.