Ambon (Antara Maluku) - Kalangan legislatif minta Panglima Kodam XVI/Pattimura dan Kapolda Maluku lebih memperkuat fungsi dan peran intelijen masing-masing untuk menangkal berbagai aksi teror dan provokasi yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab.

"Masih saja ada orang yang menginginkan kehidupan sosial masyarakat di Maluku, khususnya Kota Ambon, terganggu dan saling curiga lewat aksi-aksi provokasi dan teror bom," kata Wakil Ketua Komisi A DPRD Maluku, Melky Frans, di Ambon, Jumat.

Ia menegaskan, masyarakat di daerah ini tidak lagi mudah percaya pada tindakan-tindakan orang tertentu yang melakukan penghasutan lewat berbagai cara sampai tingkat meledakkan bom rakitan, tapi perbuatan seperti itu harus bisa dicegah sejak dini.

Insiden peledakan bom rakitan di salah satu lapak pedagang kaki lima (depan Toko Dewi) di terminal dan pertokoan Mardika pada Senin (1/10) malam menunjukkan masih ada pelaku yang ingin mengacaukan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Upaya pencegahan awal bisa dilakukan aparat keamanan baik Polri maupun TNI dengan meningkatkan fungsi dan peran aparat intelijen di lapangan yang setiap saat bisa mendeteksi setiap pelaku yang mencurigakan.

"Bila tidak diambil langkah tegas oleh institusi Polri maupun TNI, maka aksi seperti ini akan dilakukan terus karena pelakunya tetap merasa aman menjalankan tindakannya," kata Melky Frans.

Sehubungan itu, katanya, DPRD Provinsi Maluku akan menyusun agenda pertemuan bersama Kapolda dan Pangdam serta komunitas intelijen daerah guna membicarakan perkembangan dan penanganan masalah kamtibmas di daerah ini pascaledakan bom Mardika itu.

"Masyarakat harus hidup nyaman dan mendapatkan jaminan keamanan secara pasti dari intitusi Polri/TNI sehingga fungsi dan peran mereka dalam bidang intelijen harus lebih ditingkatkan secara profesional," ujarnya.


Pewarta: Daniel Leonard
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026