"Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah mengizinkan maspakai penerbangan tersebut melayani rute Ambon - Langgur (Maluku Tenggara) - Dobo, namun rekomendasi Pemkab Kepulauan Aru belum ada," kata kepala bandara Dobo, Agus Laipenny ketika dikonfirmasi dari Ambon, Rabu.
Ia mengemukakan, sebagai aparatur Kementerian Perhubungan telah mengfasilitasi manajemen Ekspress Air untuk mendapatkan rekomendasi Pemkab kepulauan Aru, hanya belum ada kejelasannya.
"Saya pun dari segi teknis telah memberikan telaah kepada Pemkab Kepulauan Aru soal permintaan rekomendasi dari Ekspress Air," ujar Agus.
Ia mengemukakan kehadiran pesawat Ekspress Air dab Trigana Air yang selama ini melayani rute Ambon - Langgur - Dobo pergi pulang (pp) strategis dalam mendukung program pemerintahan, pembangunan dan pelayanan sosial.
"Pesawat Trigana Air dengan kapasitas 42 tempat duduk sering tidak mampu melayani penumpang sehingga harus antri beberapa hari untuk keluar dari Dobo," katanya.
Hanya saja, dia menyerahkan proses perizinan rekomendasi tersebut kepada Pemkab Kepulauan Aru yang memiliki kewenangan untuk hal tersebut.
"Kami hanya menyiapkan sarana maupun prasarana teknis untuk menjamin aktivitas penerbangan sehingga perizinan rekomendasi itu merupakan kewenangan Pemkab Kepulauan Aru," ujar Agus.
Penerbangan dari Ambon ke Langgur butuh waktu tempuh sekitar 1,5 jam, dan Langgur ke Dobo 30 menit. Sebelumnya Kabid Perhubungan Udara Dinas Perhubungan Maluku, John Rante menyatakan bahwa Ekspress Air sebenarnya diizinkan terbang langsung Ambon - Dobo namun belum bisa dilakukan karena ketiadaan stok bahan bakar (avtur) di sana.
"Sekiranya Ekspress Air diizinkan beroperasi ke Dobo, maka mendukung program pemerintahan, pembangunan dan pelayanan sosial untuk wilayah NKRI yang secara geografis berdekatan dengan Australia," katanya.
Bupati Kepulauan Aru, Teddy Tengko belum bisa dikonfirmasi karena saat dihubungi melalui telpon genggam (hp) mengalami gangguan jaringan.
Pewarta: Lexy Sariwating: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.