Provinsi Maluku termasuk daerah bebas pelarian teroris, kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Maluku, AKBP Johanis Huwae, kepada ANTARA di Ambon, Jumat.
"Kami belum menerima laporan adanya dugaan, kecurigaan, maupun oknum teroris dari polres di sembilan kabupaten dan kota se- Maluku. Kami berharap daerah ini bebas dari pelarian teroris sehingga stabilitas keamanan semakin kondusif," kata Huwae, menanggapi peristiwa penangkapan sejumlah tersangka teroris di beberapa wilayah Tanah Air, sepekan terakhir ini.
Jajaran Polda Maluku juga tidak menggelar operasi khusus untuk mengawasi kemungkinan oknum teroris menyusup ke daerah ini.
Kapolda Maluku, Brigjen Pol. Totoy Herawan Indra, menurut Huwae, telah menginstruksikan kapolres untuk mengintensifkan patroli dan membangun koordinasi dengan masyarakat untuk melaporkan secepatnya bila mencurigai ada gerakan maupun oknum tertentu yang diragukan keberadaannya di suatu daerah.
Dia mengakui, Maluku yang mencakup 1.340 pulau dengan 92,4 persen (851.000 km2) wilayahnya laut merupakan tantangan tersendiri karena banyak pintu masuk maupun keluarnya.
"Kami membangun kemitraan dengan Kodam XVI/Pattimura, Lantamal IX Ambon, Lanud Pattimura Ambon, dan masyarakat agar sinergis dalam menjaga kemungkinan teroris menyusup masuk, terutama memanfaatkan jasa transportasi laut," katanya.
Menyinggung kasus penangkapan Kuswanto, oknum bersenjata di Desa Wailikut, Kecamatan Waisama, Kabupaten Buru Selatan (Bursel), Huwae menengaskan tersangka bukan teroris ataupun anggota jaringan Nurdin M. Top.
"Kuswanto memang ditangkap personel Densus 88 Polda Maluku dan Polres Buru karena memiliki senjata api dan sejumlah butir munisi. Namun, dia bukan teroris sebagaimana isu berkembang di masyarakat," katanya.
Kuswanto dan dua tersangka lainnya, Taher Pontoloreng dan Azis Wael, telah diperiksa intensif di Polres Buru setelah ada laporan dari Wailikut yang mencurigai mereka sebagai teroris.
"Ternyata senjata jenis AK -47 buatan Rusia dan sepuluh butir amunisi yang disita dari para tersangka adalah peninggalan konflik sosial tahun 1999, yang ditanam di belakang rumah Kuswanto," kata Huwae.
Sementara itu, Mabes Polri berencana merilis penangkapan para terduga tindak pidana terorisme yang berlangsung dalam sepekan terakhir ini.
"Nanti siang sekitar jam 14.00 WIB di Mabes Polri, Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri akan memberikan penjelasan langsung ke masyarakat tentang berbagai kasus terorisme dalam sepekan ini," kata Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Zaenuri Lubis di Jakarta, Jumat.
Sejumlah kasus yang akan dirilis ke publik adalah penangkapan 16 terduga kasus terorisme pekan lalu di Pejaten, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta, dan Setu serta Narogong, Bekasi. Polisi juga akan menjelaskan soal penangkapan enam terduga terorisme di Cawang, Jakarta dan Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (12/5), yang menyebabkan lima orang tewas tertembak sedangkan satu lagi dapat ditangkap hidup dengan luka tembak di kaki.
Di samping itu, Polri juga akan merilis penangkapan tiga terduga kasus yang sama di Solo dan Sukoharjo, Jawa Tengah. Selain kronologis penangkapan, juga akan diumumkan identas para terduga yang tertangkap maupun yang tewas tertembak.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.