Gading, pemilik usaha percetakan dan sablon di kawasan Tantui, Kamis mengatakan, permintaan yang meningkat seperti ini jarang terjadi pada hari-hari biasa.
"Terkadang dalam sebulan tidak ada pesanan stiker, kartu nama, baliho dan spanduk. Tapi beberapa bulan terakhir ini pendapatan perbulan kami meningkat dari 25 persen menjadi 67 persen," katanya.
Pada masa menjelang Pemilu, menurut Gading, dalam seminggu dirinya bisa menerima tiga sampai empat permintaan khususnya untuk membuat stiker, kartu nama, spanduk dan baliho.
Ia mengungkapkan, harga stiker Rp3.500/lembar, satu kotak kartu nama berisi 100 lembar Rp40.000, spanduk Rp40.000/meter, dan baliho Rp40.000/meter.
"Harga yang kami patok juga tergantung jumlah permintaan dari konsumen. Jika banyak maka akan semakin murah," katanya.
Ia mencontohkan, permintaan 500 lembar stiker yang harusnya dibayar Rp1,75 juta turun menjadi Rp1,6 juta, demikian pula untuk baliho, spanduk dan kartu nama.
Gading berharap, ada bantuan pemerintah dalam bentuk modal untuk memajukan usaha kecil dan menengah seperti dirinya.
Sementara pelaku usaha percetakan dan sablon di Wailela, Akbar, menyatakan dirinya membuat paket pesanan A,B,dan C.
Paket A 500 stiker,500 kartu nama, 100 pin, dan 30 spanduk mini, biayanya Rp1,5 juta. Paket B (kelipatan dua dari paket A) Rp3 juta, dan Paket C (kelipatan dua dari paket B) Rp5 juta.
"Pesanan lebih banyak untuk paket A mungkin karena faktor harga yang kami tawarkan lebih ekonomis," kata Akbar.
Ia mengaku sejak awal tahun menerima dua sampai empat pesanan dalam seminggu.
"Ini karena musim Pemilu. Kalau tidak, pesanan stiker, kartu nama, pin, spanduk jarang datang," katanya.
"Kalau sudah sepi sekali, saya buka usaha lain seperti fotocopy dan sablon pakaian," tambahnya.
Pewarta: Fatma Assagaff: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.