Anak-anak di Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, masih banyak yang harus menjadi pekerja untuk membantu tuntutan ekonomi keluarga . Pantauan ANTARA di beberapa pasar tradisional, terminal, dan lokasi pertokoan Ambon Plaza (Amplaz), Jumat, terlihat para pekerja anak berjualan koran, kue, kantong plastik, menjadi buruh pikul, dan jualan bensin eceran. Seorang anak penjual koran, Risky (10) mengatakan, dia terpaksa berjualan seusai jadwal sekolah karena orang tuanya tergolong tidak mampu ekonominya. "Saya berjualan atas kesadaran untuk membantu biaya sekolah karena ayah  hanya buruh bangunan," kata Rizky. Sementara seorang anak lainnya, Hesty (12) yang menjual bensin di kawasan terminal Mardika mengatakan berjualan agar bisa meringankan beban ekonomi keluarga karena pendapatan orang tua hanya pas-pasan. "Saya berjualan bensin sudah setahun terakhir ini, bergilir dengan kakak. Kami melakukannya setelah pulang sekolah," ujarnya. Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Ambon, Aminah Kakialy mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan pembinaan agar anak-anak usia sekolah tidak menjadi pekerja. Namun kendalanya, para orang tua anak-anak itu tidak berusaha menghentikan kegiatan mereka  menjadi pekerja karena tuntutan ekonomi. "Kebanyakan mereka (pekerja anak) tinggal di pasar-pasar dan kawasan - kawasan permukiman yang tidak layak untuk dihuni sehingga terdorong untuk menjadi pekerja pada usai sekolah. Apalagi bila penghasilan yang mereka dapatkan dari pekerjaan itu lancar," kata Aminah. Sebagian pekerja anak tinggal bersama orang tua atau keluarga terdekatnya dan ada pula yang tinggal di jalanan. Lokasi tempat para anak jalanan itu tinggal adalah pasar-pasar tradisional, terminal dan emperan toko. Menurut Aminah, pihaknya telah melakukan langkah penanganan terhadap para anak jalanan dengan dibina di 10 rumah singgah yang dikelola olah kelompok masyarakat di Kota Ambon. "Jumlah anak jalanan yang telah tertangani pada 2010 di rumah singgah sebanyak 571 orang. Sedangkan tahun lalu juga berkisar 500-an anak," katanya.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026