Ternate (Antara Maluku) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate, Maluku Utara, melarang pengiriman cabai produksi setempat ke luar untuk menjaga stok dan stabilitas harga cabai di daerah ini.

"Harga cabai di Ternate terutama jenis cabai nona saat ini melambung dari normal Rp40.000 per kg menjadi Rp100.000 per kg akibat menipisnya stok menyusul banyaknya cabai nona produksi Ternate yang dikirim ke luar daerah seperti ke Sulawesi Utara," kata Kepala Disperindag Kota Ternate Arif Gani di Ternate, Jumat.

Disperindag tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait agar semua produksi cabai di Ternate untuk sementara hanya di pasarkan di Ternate, apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru kebutuhan masyarakat akan semakin meningkat.

Ia mengatakan selama ini Ternate justru mendatangkan cabai dari luar Ternate, seperti dari Sulawesi Utara dan Gorontalo, tetapi entah apa sebabnya para pedagang di Ternate belakangan ini justru mengirim cabai ke luar daerah padahal produksi yang ada belum bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.

Ada dugaan pedagang sengaja mengirim cabai produksi Ternate ke daerah lain untuk menaikan harga cabai di Ternate dengan alasan stok terbatas, karena pengalaman selaman ini setiap stok terbatas harga melambung tinggi, sehingga pedagang menikmati keuntungan besar.

Menurut dia, Disperindag tengah menyelidiki dugaa itu dan jika benar maka pedagang yang melakukannya akan dikenai sanksi tegas sesuai dengan ketentuan yang berlaku, karena tindakan mereka jelas merugikan masyarakat.

Sebelumnya sejumlah pedagang cabai di Ternate mengaku mereka terpaksa menjual cabai nona dengan harga mahal karena stok terbatas, namun mereka mengaku tidak mengetahui apa penyebab menipisnya stok itu.

Sementara itu pemantauan di sejumlah pasar tradisional dan pusat perdagangan modern di Ternate menunjukan harga kebutuhan pokok lainnya stabil dan kalau pun ada kenaikan tidak singnifikan.

Pewarta: La Ode Aminuddin
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026