"Kami akan mencoba melihat gunung-gunung api di bawah laut dalam hubungannya dengan potensi mineral seperti mangan, fosfor, dan sebagainya yang dihasilkan," kata Kepala P2LD LIPI Ambon Augy Syahailatua di Ambon, Kamis.
Dijelaskannya, penelitan tersebut lebih difokuskan pada kemungkinan ada pengaruh kesuburan dari mineral hasil erupsi gunung berapi terhadap kelangsungan ekosistem di Laut Banda, dan pengaruhnya dengan pola pergerakan air Samudera Pasifik, serta up-welling dan down-welling yang terjadi setiap enam bulan sekali.
"Laut Banda sangat subur, berada di batas tenggara tumbukan lempeng Eurasia, juga zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia tapi pergerakannya tidak seaktif lempeng Selat Sunda," ucapnya.
Dikatakannya, karena belum memiliki fasilitas penilitian yang lebih lengkap, sebelum menjadi menjadi P2LD tapi Balai Konservasi Biota Laut (BKBL), selama ini LIPI Ambon hanya mengerjakan riset geologi laut yang berhubungan dengan pulau-pulau kecil yang dikelilingi laut dalam, oleh karena itu pihaknya berencana untuk meneliti lebih luas lagi.
"Kami mengerjakan untuk daerah pesisir tapi untuk laut yang lebih dalam lagi, kami butuh alat yang lebih baik, misalnya bagaimana mengambil sendimen bisa sampai ke kedalaman 5.000 meter atau piston core, untuk mengambil contoh-contoh sedimen," katanya.
Terkait dengan optimalisasi riset kelautan yang lebih luas lagi, menurut Augy, pihaknya sedang berupaya untuk menambah peralatan baru, terutama fasilitas penelitian yang lebih mikro, seperti genetika, taksonomi dan semacamnya di laboratorium P2LD.
"Kami juga ingin ada penambahan peralatan baru di laboratorium, terutama untuk penelitian yang lebih mikro, misalnya genetika, taksonomi spesies, itu membutuhkan alat-alat mikroskop yang lebih canggih dari yang ada di lab kami sekarang," ucapnya.
Pewarta: Shariva AlaidrusEditor : John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.