Ambon (Antara Maluku) - Tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Maluku hingga akhir tahun 2014 mengalami penurunan signifikan seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian dan terbukanya lapangan kerja baru di daerah ini.

Kepala Badan Penanaman Modal Daerah Fauzan Chatib, di Ambon, Kamis mengatakan, angka pengangguran yang menurun dapat terlihat dati tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) tahun 2014 yang meningkat 66,84 persen dari tahun 2013 yakni 61,92 persen, sedangkan pertumbuhan penduduk usia produktif 0,8 persen atau sebanyak 1,09 juta jiwa pada tahun 2014

Ditinjau dari sektor lapangan usaha kosentrasi terbesar sebaran tenaga kerja di Maluku berada pada tiga sektor ekonomi andalan yakni pertanian (perkebunan, kehutanan dan perikanan) 50,55 persen, sektor jasa-jasa 19,27 persen serta perdagangan, hotel dan restoran 13,09 persen.

"Bertambahnya jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian sejalan dengan peningkatan angkatan kerja di pedesaan karena kegiatan usaha pada pertanian terbanyak terkonsentrasi di desa," katanya.

Selain itu, tiga sektor lain mengalami penurunan jumlah tenaga kerja yakni pertambangan, listrik, gas dan air minum, serta lembaga keuangan, real estate, persewaan dan jasa.

Penyebab utama penurunan tenaga kerja di tiga sektor ini yakni pemberlakukan UU No.4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara, di mana dampaknya kegiatan pertambangan di Maluku terhenti karena hasil produksi tidak dapat dijual ke pasar domestik.

Dilihat berdasarkan wilayah tempat tinggal terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja baik di kota dan desa, di mana tercatat wilayah perkotaan jumlah angkatan kerjanya mencapai 269.586 jiwa dan 256.743 jiwa diantaranya telah bekerja.

Di desa dari 458.492 jiwa angkatan kerja, tercatat 433.332 jiwa telah bekerja di berbagai sektor. "Tingkat penganguran di kota maupun desa juga alami penurunan yakni 8,47 persen di kota dan 5,49 persen di desa," katanya.

Chatib menambahkan, penyerapan tenaga kerja di Maluku dapat lebih dioptimalkan dengan mencermati pola penyebaran tenaga kerja baik berdasarkan skala dan sektor ekonomi, wilayah persebaran maupun pola musiman.

"Sektor ekonomi unggulan seperti perikanan dan kelautan seharusnya digenjot dan menjadi prioritas utama penyerapan tenaga kerja, sedangkan sektor yang sedang berkembang seperti industri pengolahan dapat dikembangkan lebih serius sebagai alternatif pengalihan tenaga kerja dari sektor lain seperti pertambangan dan keuangan yang mengalami perlambatan dan penurunan," katanya.


Pewarta: Jimmy Ayal
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026