Ambon (Antara Maluku) - Kegiatan transaksi emas di sejumlah toko perhiasan maupun pedagang pinggiran jalan di Kota Ambon, ibu kota Provinsi Maluku masih terlihat sepi.

"Masih sepi, apalagi ada kenaikan harga emas dari Rp530.000 menjadi Rp550.000 sehingga hampir tidak ada transaksi," kata Enang, pemilik Toko Emas Mujur Jaya di kawasan pertokoan Matahari Ambon Plaza, Rabu.

Dia menjelaskan, sudah 10 hari ini emas yang terjual hanya enam gram, itu pun dalam bentuk cincin.

"Untuk makan siang saja kami harus ambil dari rumah," kata Enang, yang ditemani dua karyawan di tokonya itu.

Menurutnya, ramai tidaknya transaksi jual beli emas di Kota Ambon selalu tergantung musim, apalagi menjelang bulan puasa, lebaran maupun natal, tetapi saat hari biasa sudah pasti sepi.

Nelly, pedagang yang selama ini melakukan transaksi jual beli di emperan pertokoan Matahari Ambon Plaza membenarkan, kegiatan transaksi emas memang masih sepi tidak ada pembeli, kalau pun ada itu pun tukar tambah.

"Emas yang dijual dalam bentuk cincin dan anting itu dibeli dari konsumen dengan harga Rp420.000 per gram, dan dijual kembali dengan harga Rp470.000 per gram," katanya pula.

Kami ikuti harga yang dipatok toko-toko emas, yakni Rp550.000/gram sejak bulan lalu, lanjutnya, sehingga menjual juga kepada peminat emas pinggiran dengan harga Rp470.000 per gram baik dalam bentuk anting, kalung maupun gelang.

Dia menjelaskan, biasanya emas yang dibeli dari masyarakat tidak langsung mematok harga Rp380.000 per gram, tetapi dilihat dulu kondisi barang masih utuh atau rusak, dan kalau rusak atau patah perlu perbaikan lebih dulu.

"Emas yang rusak biasanya dibeli seharga Rp350.000 per gram, yang masih baik Rp420.000 per gram," katanya lagi.

Dullah, perajin solder emas yang berdampingan dengan Nelly mengatakan, pekerjaan solder ini juga tergantung musim.

"Hasilnya lumayan juga, sekali perbaikan harganya Rp20.000, baik cincin, anting, giwang maupun kalung," kata dia.

Hari ini, lanjutnya, sejak pagi sudah mendapat Rp60.000 hasil solder tiga titik cincin yang patah," katanya.

Pewarta: John Soplanit
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026