"Kondisi jalan di wilayah Halmahera, khususnya yang menghubungkan sentra produksi pertanian dengan daerah pemasaran sangat jelek, sehingga sangat menyulitkan dalam pengangkutan komoditas hasil bumi," kata sala seorang pengusaha hasil bumi di Malut, Umar di Ternate, Selasa.
Jalan yang menghubungkan Subaim, Kabupaten Halmahera Timur dengan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara dan Sofifi, ibu kota Provinsi Malut misalnya kondisinya sangat jelek padahal hasil bumi dari daerah itu harus di pasarkan ke Tobelo atau Ternate melalui Sofifi.
Ia mengatakan, jeleknya kondisi jalan tersebut mengakibatkan para pengusaha hasil bumi harus mengeluarkan biaya angkut yang lebih mahal dan untuk menutupinya pengusaha terpaksa membeli produksi hasil bumi petani dengan harga murah.
Bahkan tidak jarang produksi hasil bumi petani di wilayah tersebut sulit di pasarkan karena para pengusaha enggan membeli hasil bumi petani di sana dan lebih memilih mendatangkan dari luar Malut, seperti dari Sulawesi Utara dan Gorontalo karena pengangkutannya melalui laut tidak terlalu sulit.
Sementara itu Gubernur Malut Abdul Gani Kasuba mengatakan, Pemprov Malut sudah memprogramkan pembenahan seluruh luas jalan di wilayah Halmahera, termasuk di wilayah lainnya di Malut, namun belum bisa dilaksanakan secara serentak karena terbatasnya dana APBD Malut.
Pemprov Malut tengah memperjuangkan pembenahan jalan di wilayah Halmahera tersebut ke pemerintah pusat, terutama untuk jalan yang berstatus jalan nasional dan diharapkan mulai 2015 ini sudah bisa dikerjakan.
"Saya targetkan dalam empat tahun ke depan jalan di wilayah Halmahera, termasuk di wilayah lainnya di Malut sudah dibenahi. Kementerian PU dan Perumahan Rakyat telah berjanji mengalokasikan anggaran dalam jumlah besar untuk pembangunan jalan di daerah ini," katanya menambahkan.
Pewarta: La Ode Aminuddin: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.