Ternate (ANTARA) - Sebanyak 328 kontingen mengikuti Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) dan Lomba Musik Yangere tingkat Maluku Utara 2025.
"Perpaduan harmoni Pesparawi dan keindahan musik Yanger, mencerminkan semangat masyarakat Malut yang religius, berbudaya, dan penuh semangat gotong royong, sehingga daerah kaya akan keragaman budaya dan tradisi musik," kata Wagub Malut, Sarbin Sehe dihubungi, Sabtu.
Kegiatan yang dihelat di Pelataran Kantor Kementerian Agama Malut ini menjadi bagian dari kebhinekaan masyarakat dan ruang apresiasi umat Kristiani.
Kegiatan eksebisi Pesparawi tahun ini mengangkat tema "Aku hendak memuji Tuhan untuk segala waktu Mazmur 34:2a", acara yang berlangsung khidmat dan meriah.
Defile kontingen dengan iringan marching band yang dibawakan apik oleh pelajar SMAN 5 Tidore Kepulauan menjadi suguhan pembuka sekaligus dimulainya rangkaian acara.
Wakil Gubernur dan tamu undangan disuguhi tarian kolosal oleh Sanggar Dabiloha pada malam pembukaan.
Wakil Gubernur Maluku Utara mengapresiasi kegiatan Pesparawi dan Lomba Musik Yangere 2025. Kegiatan ini menjadi sarana melestarikan musik tradisional serta mewadahi hasil yang sudah dilakukan umat Kristen selama ini antara lain kegiatan paduan suara rohani di gereja-gereja maupun di sekolah.
Sementara, Staf Ahli Wali Kota Tidore Kepulauan Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan Abdul Hakim Adjam, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Eksibisi Pesparawi dan Lomba Musik Yanger tahun 2025.
Wakil Gubernur berharap kegiatan Pesparawi dan Lomba Musik Yanger ini bukan sekadar ajang seni dan kompetisi, tetapi juga merupakan perwujudan iman, ekspresi budaya, serta sarana memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat Maluku Utara yang majemuk.
"Lewat musik dan nyanyian, kita belajar bahwa harmoni tidak mungkin lahir dari satu suara saja tetapi dari banyak suara yang menyatu dalam keindahan," kata dia.
Disisi lain Kepala Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, Amar Manaf menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Eksebisi Pesparawi serta Lomba Yanger tahun ini.
Menurutnya kegiatan ini bukan hanya sebuah perlombaan, tetapi juga sebagai momentum melestarikan budaya lokal serta memperkuat keimanan dan kebersamaan di tengah masyarakat Maluku Utara. Dengan bernyanyi, kita dapat merefleksikan kasih Tuhan yang menyelamatkan dan menjadi terang bagi sesama.
