Ambon, 13/8 (Antara Maluku) - Gubernur Maluku Said Assagaff menyatakan salah satu tantangan besar dalam kehidupan masyarakat modern dewasa ini adalah pudarnya nilai-nilai solidaritas sosial dan menguatnya nilai-nilai individualisme dan pragmatisme.

"Fenomena ini bukan hanya menjadi fenomena masyarakat urban (kota) tetapi juga mulai merambat sampai ke desa hingga dusun-dusun terpencil," kata Gubernur Said, pada acara Halal Bi Halal Komunitas Cinta Damai Maluku, di Ambon, Rabu.

Menurut dia, tak pelak lagi, tata pergaulan antaranak dan orangtua, peserta didik dan pendidik, antartetangga, antardesa, serta antarkelompok masyarakat dalam pelbagai level mulai mengalami pergeseran dari tata nilai kesopanan, tenggang rasa, kasih sayang dan kebersamaan.

Selanjutnya, fenomena perkelaihan antarnegeri yang sering terjadi dewasa ini di Maluku adalah salah satu contoh dari terdistorsinya budaya "malu hati" dan kasih sayang yang merupakan nilai dasar dalam membangun kehidupan bersama.

"Secara sosiologis menunjukan dominannya sikap individualistik dan pragmatis yang menonjolkan identitas aku dan kami untuk melawan kamu dan mereka. Disinilah rasa kebersamaan kita terdistorsi oleh primordialisme sempit berbasis kampung dan kelompok," Gubernur Said.

Karena itu, kembangkan kesadaran kolektif tentang indahnya Hidop Orang Basudara (kehidupan persaudaraan) merupakan modal sosial kultural yang punya peran sangat penting untuk saling memaafkan, saling mengasihi, saling membanggakan, saling menopang, dan saling menghidupkan.

"Dalam moment yang sarat nilai-nilai spiritual ini, saya mengajak kita semua untuk saling memaafkan dan bertransformasi menjadi kekuatan positif untuk kita bangun Maluku yang kita cintai ini," katanya.

"Nabi Muhammad Saw bersabda, Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sebelum kamu mencintai dirimu sendiri. Dalam hadis lain Nabi mengingatkan kita, bahwa tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim. Sedangkan orang yang suka bersilaturrahim akan diperpenjang usianya dan dipermudah rezekinya," ungkap Gubernur Said.

Gubernur Said mengatakan, ibadah puasa dan lebaran telah dilalui, bahkan bulan Syawwal, bulan di mana kebiasaan umat Islam melaksanakan acara Halal bi Halal pun sudah berlalu, kiranya berbagai amaliyah Ramadhan yang telah dijalani itu tidak terlewatkan begitu saja, tetapi dapat membekas dalam pembentukan diri pribadi masing-masing, sehingga menjadi pribadi yang mempunyai tingkat keadaban yang tinggi.

"Dimana pun kita berada akan menjadi sumber rahmat dan sumber pencerah untuk sesama, menjadi kekuatan di saat lemah, menjadi kekuatan pendamai di saat ada kekecauan, menjadi sumber kasih sayang di saat ada kebencian, menjadi kekuatan kebahagiaan di saat ada kesusahaan dan kepedihan, menjadi kekuatan pengharapan di saat ada keputusasaan, menjadi kekuatan penerang di saat ada kegelapan, menjadi kekuatan pengurai di saat ada kebuntuan dan seterusnya," pintanya.

Menurut gubernur, dalam masyarakat multikultural dewasa ini, tidak bisa hidup sendiri tetapi hidup saling memiliki ketergantungan atau saling membutuhkan. Tidak akan lengkap tanpa saudara yang berbeda golongan dan keyakinan.

Dalam konteks global, tak satupun bangsa di dunia ini dapat hidup dan membangun negaranya sendiri. Semuanya punya tingkat ketergantungan yang sangat kuat, sebagai sebuah sistem global, baik secara sosial, ekonomi maupun politik.

Di Maluku, yang mempunyai hubungan emosional dan kekerabatan dan berada dalam satu daerah pasti punya tingkat ketergantungan yang jauh lebih besar.

Dalam spirit seperti ini, perlu sekali dikembangkan nilai-nilai silaturrahim sebagai kekuatan untuk melawan kedengkian, kebencian, iri hati, sakit hati, dan pelbagai penyakit hati lainnya. Karena hati adalah cermin manusia.

"Sabda Rasulullah SAW yakni, dalam diri manusia ada segumpal daging, jika dia baik, baik semua amal perbuatan manusia, dan jika dia rusak, maka rusak semua amal perbuatan manusia, itulah hati," katanya.

Karena itu, Dengan Adanya komunitas damai ini sesungguhnya merupakan potret, betapa masyarakat Maluku sangat mencintai perdamaian dan persaudaraan. Bahkan perdamaian yang dikembangkan dewasa ini, bukan lagi perdamaian pasif, tetapi sudah menjadi sebuah gerakan perdamaian aktif, dimana semua umat beragama di Maluku sudah memiliki komitmen yang i untuk saling menopang dan bahu membahu untuk meraih kemajuan di pelbagai bidang kehidupan.

"Beberapa pertikaian antarkampung atau antarnegeri yang terjadi belakangan ini, serta pelbagai isu provokasi berbau SARA yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, saya mengajak samua basudara yang ada di sini, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, aparatur pemerintah, politisi, akademisi, untuk menjadi kekuatan pendamai, "ungkapnya.

"Mari bahu membahu bersama dengan TNI dan Polri, kita lawan pelbagai provokasi yang mau dimainkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kepada media masa, mari memberitakan kondisi Maluku seutuhnya, jangan hanya isu-isu sensitif komunitas cinta damai terkait konflik saja, tetapi juga beritakan success story pembangunan perdamaian di Maluku dewasa, yang layak menjadi laboratorium kerukunan umat beragama terbaik di Indonesia. Serta succes story pembangunan di pelbagai bidang kehidupan," ujarnya-

"Jangan pernah kalah melawan kejahatan dan jangan pernah kalah melawan kekerasan dalam bentuk apapun. Kita pernah punya pengalaman pahit di masa lalu, tetapi kita juga punya pengalaman manis di dalam membangun Maluku dari segala keterpurukan masa lalu," ujar Gubernur Said.

Pewarta: Rofinus E. Kumpul
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026