Ambon (ANTARA) -
Mitigasi bencana di Pulau Kelang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, tidak hanya berlangsung di laut. Di ladang-ladang yang terletak beberapa kilometer dari pesisir, para perempuan memegang peran penting dalam menjaga ketahanan pangan desa.
Popi Tiakoi (70), petani perempuan di Kelang yang semasa hidupnya menggantungkan nasib tanamannya pada kepercayaan Nanaku. Usia setua itu tidak menyurutkan ingatannya pada ajaran orang tuanya zaman dahulu. Ia menjelaskan bagaimana ia membaca formasi awan yang disebut naga alam. Posisi kepala dan ekor awan menentukan waktu tanam. “Kalau salah baca, panen bisa gagal,” katanya.
Tidak hanya awan, Popi juga menyampaikan bagaimana menanam kacang-kacangan harus berdasarkan pasang surutnya air. Kalau air surut, kacangnya bagus. Kalau pasang, pasti tidak berhasil. Jadi, ada tanda-tanda yang harus mereka perhatikan. Mata perempuan itu terbelalak, saat menjelaskan pengetahuan kunonya tersebut. Kerutan di pelipis matanya terlihat jelas. Bagi perempuan seperti Popi, membaca alam adalah soal bertahan hidup.
Pengetahuan Popi bukan cerita kosong. Dalam keseharian masyarakat Sole di Pulau Kelang, musim benar-benar membentuk ritme hidup setahun penuh. Kalender musim—yang hidup dalam ingatan para perempuan ladang—menjadi penanda kapan tanah boleh digarap dan kapan harus dibiarkan bernapas.
Awal tahun, dari Januari hingga Maret, hujan turun deras, nyaris tanpa jeda. Inilah masa tanam cabai, cengkeh, pala, jahe, dan rimpang. Meskipun demikian, hujan yang sama juga membawa ancaman banjir dan longsor dari perbukitan. Tanah menjadi lembek, kebun mudah rusak. Karena itu, para perempuan biasanya menanam pohon penahan air, seperti bambu dan lamtoro, sekaligus membersihkan saluran air agar ladang tidak terendam.
Memasuki April dan Mei, hujan mulai tidak menentu. Rumput liar tumbuh cepat, babi hutan kerap masuk kebun, dan hama mulai menyerang. Perempuan mengambil peran penting di fase ini, membersihkan gulma, menjaga kebun, hingga meracik obat semprot sederhana agar tanaman bertahan. Cabai dan jahe dipanen, tetapi hasilnya tidak selalu maksimal karena penyakit tanaman mulai muncul.
Juni hingga Agustus adalah masa terberat. Panas ekstrem memecah tanah, air menghilang, dan hasil panen menurun drastis. Di bulan-bulan ini, ladang lebih banyak dibersihkan dari pada ditanami. Sebagian keluarga memilih menanam tanaman tahan kering, seperti kacang tanah, sambil menunggu hujan kembali turun. “Kalau dipaksakan, pasti gagal,” kata Popi, suatu kali, mengenang musim-musim panjang yang menguras tenaga.
September hingga Oktober masih diwarnai kekeringan. Tanah keras dan air tanah semakin dalam. Persiapan tanam dilakukan pelan-pelan, membersihkan lahan, memperbaiki bedengan, dan menunggu tanda alam yang tepat—arah angin berubah, panas mulai berkurang, atau awan yang menurut orang tua disebut naga alam kembali muncul.
Menjelang November dan Desember, hujan perlahan turun. Inilah saat menanam kembali. Hanya saja, hujan awal juga membawa rumput liar dan hama baru. Penyemprotan dan pembersihan rutin kembali menjadi tugas perempuan di ladang. Siklus itu berulang setiap tahun, tanpa grafik, tanpa angka, namun tertanam kuat dalam ingatan mereka.
Menurut Popi, kalender musim bukan sekadar catatan pertanian. Ia adalah cara bertahan hidup. Kesalahan membaca musim bisa berarti gagal panen, dapur kosong, dan bulan-bulan panjang tanpa penghasilan.
Sayangnya, Nanaku kadang kala tidak menjadi pegangan kuat lagi di masa kini. Bahkan, Popi harus mengingatkan prinsip tetua itu berulang kali kepada anak cucunya. “Anak-anak sekarang maunya mudah. Saya bilang, harus kerja keras, panas-panasan, baru dapat hasil,” katanya.
Mitigasi modern
Di Ambon, Maluku, Stasiun Meteorologi Pattimura terus memantau perubahan cuaca, dengan teknologi satelit dan radar. Setiap 30 menit, data cuaca diperbarui, terutama untuk kepentingan penerbangan dan pelayaran.
Ada jarak yang nyata antara data di layar monitor dan realitas di pesisir Pulau Kelang. Informasi sering berhenti di grup WhatsApp aparat desa dan kadang tidak sampai ke nelayan yang berada di laut, tanpa sinyal. Barangkali, orang-orang setiap hari membaca cuaca lewat layar, angka, dan citra satelit, namun mungkin hanya orang-orang, seperti Wa Ode Dwi, seorang bidan desa. Popi dan seusianya, berharap selamanya pada kekuatan naga alam dan air surut.
Di Maluku, membaca alam memang bukan hanya urusan teknologi. Masyarakat memiliki caranya sendiri, mengamati bulan, arah angin, warna air laut, hingga tanda-tanda yang diwariskan leluhur. Soal itu, BMKG tidak merasa perlu berhadap-hadapan.
“Kalau masyarakat punya kemampuan atau cara pandang sendiri untuk melihat kondisi alam, itu hak mereka. Kami tetap menjalankan tugas pokok dan fungsi kami berdasarkan data,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ambon Kamari.
Di ruang kerja BMKG, keputusan tidak diambil dari firasat. Ada mekanisme yang harus dilalui, ada data yang harus dibaca. Citra satelit menjadi mata utama, memantau kondisi atmosfer global dan regional, membaca pergerakan awan, tekanan udara, hingga potensi cuaca ekstrem. Tanpa data, tidak ada informasi yang boleh keluar.
“Kami tidak bisa memberikan pelayanan tanpa data. Itu yang kami pegang,” tegasnya.
Karena itu, BMKG memilih berjalan berdampingan. Adat dan budaya tetap hidup, sementara sisi teknis diperkuat oleh sains. Dua cara membaca alam yang berbeda, tetapi diarahkan pada tujuan yang sama: keselamatan.
Tugas BMKG melebar ke seluruh Maluku. Prakiraan cuaca harian, tiga harian, hingga peringatan dini cuaca buruk disusun dan disebarluaskan dari Ambon ke kabupaten dan kota. Tanggung jawabnya bukan satu kota, melainkan satu provinsi kepulauan.
BMKG tidak memaksa orang percaya. Mereka juga tidak mengintervensi cara masyarakat membaca alam. Hal yang mereka lakukan adalah memastikan data akurat, informasi tepat waktu, dan evaluasi terus-menerus terhadap kerja mereka sendiri.
“Kami tetap jalan dengan jalan kami. Yang terpenting, keselamatan nomor satu. Dengan kondisi cuaca seperti apa pun, keselamatan harus diutamakan,” katanya.
Nanaku boleh tetap dipercaya sebagai warisan leluhur. Tanda-tanda alam boleh terus dibaca dengan kearifan lokal, namun, ketika peringatan dini datang dari BMKG, Kamari berharap masyarakat mau memberi ruang untuk mendengar.
Manusia dan alam
Di Maluku, dengan wilayah kepulauan dipenuhi negeri-negeri adat, alam tidak pernah benar-benar sunyi. Ia berbicara lewat tanda-tanda kecil yang dipercaya, diingat, dan diwariskan turun-temurun. Kepercayaan itu disebut nanaku —atau oleh sebagian orang disebut juga nattualah— sebuah posisi hikmat yang menempatkan manusia dalam relasi hormat dengan alam.
“Nanaku itu sebenarnya bukan tahayul,” ujar seorang sosiolog lingkungan dari Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon Jeffry E M Leiwakabessy. Bgi dia, nanaku adalah hikmat Tuhan kepada manusia, tentang bagaimana manusia merespons perubahan alam.

Bagi masyarakat adat, nanaku bukan sekadar cerita lama. Ia hidup dalam keseharian, mengikat manusia dengan adat, lingkungan, dan sesama. Pada Negeri Latuhalat, di Pulau Ambon, misalnya, nanaku hadir dalam bentuk kapatah atau pepatah adat yang selalu diucapkan dalam setiap upacara. Kapatah bukan hiasan kata. Ia dipercaya sebagai pagar keselamatan. Ketika adat dijalankan, tanpa kapatah, orang-orang yakin akan ada sesuatu yang “tidak beres” menyusul.
Keyakinan semacam itu tidak hanya berhenti pada ritus adat. Ia merasuk ke ruang paling intim dalam kehidupan: rumah tangga, kehamilan, bahkan posisi tidur suami-istri. Dalam pernikahan adat Latuhalat, Ambon, ada ritual makan dari piring susu. Jika diabaikan, pernikahan dipercaya bisa berujung kegagalan. Ibu hamil dilarang makan di piring lebar, konon anaknya akan bermuka lebar. Rantai emas dan perhiasan putih pun dihindari, karena diyakini bisa membuat bayi “terlilit” di dalam kandungan.
Sebagian orang mungkin tersenyum mendengarnya. Sementara bagi masyarakat adat, nanaku adalah pengetahuan yang teruji oleh waktu. Bahkan, tanda-tanda sederhana, seperti tangan kiri gatal, dipercaya sebagai pertanda rezeki, sementara tangan kanan gatal berarti siap mengeluarkan uang. Sang akademisi pun tersenyum kecil, ketika mengingat pengalamannya sendiri, tangan kiri yang gatal, disusul rezeki dua puluh juta rupiah. “Itu nyata, saya alami,” katanya.
Lebih dari sekadar kepercayaan personal, nanaku berfungsi sebagai sistem sosial dan ekologis. Dalam perspektif sosiologi lingkungan, ia bekerja sebagai mitigasi bencana. Di beberapa wilayah di Buru Selatan, Maluku, seperti Ambalau dan kawasan pegunungan, larangan adat yang dikaitkan dengan roh-roh halus justru menjadi cara paling efektif menjaga hutan dan gunung. Orang segan melanggar, karena takut pada konsekuensi yang tak kasat mata. Berbeda dengan larangan formal yang bisa diabaikan atau dirusak.
Nanaku juga menjadi kunci membaca konflik dan keberuntungan hidup. Dalam penelitian konflik tanah di Negeri Laha, masyarakat meyakini kekalahan mereka di tingkat peninjauan kembali (PK), bukan semata persoalan hukum, melainkan akibat adat yang tidak dijalankan dengan sempurna. Mereka menang di PTUN, kejaksaan, hingga kejaksaan tinggi, namun kalah di ujung jalan, PK. “Itu sial,” kata mereka. Sial karena adat diabaikan.
Keyakinan semacam ini menegaskan satu hal: bagi masyarakat adat, alam, hukum, dan kehidupan sosial tidak berdiri sendiri. Semuanya saling terkait.
Setiap tahun, negeri-negeri adat menggelar ritus bersama. Raja sebagai pemimpin adat, saniri negeri sebagai penjaga keputusan, dan seluruh warga terlibat untuk “melindungi kampung”, melindungi tanah, laut, hutan, dan sumber daya yang menjadi sandaran hidup. Di dalamnya terkandung nilai interaksi, kepercayaan, dan gotong royong yang telah lama mengakar di Maluku, dari Saparua, Nusa Laut, Haruku, hingga Kisar.
Rumah dibangun bersama, lahan dibuka bersama, beban juga dipikul bersama. Jaringan sosial tumbuh, bukan karena kontrak, tetapi karena rasa saling percaya.
Modernisasi memang datang membawa teknologi, aplikasi cuaca, dan informasi instan, namun, menurut sang akademisi, pengaruhnya terhadap nanaku tidaklah signifikan. Anak-anak mungkin mulai berjarak, tetapi cerita terus mengalir dari mulut ke mulut, dari pemangku adat kepada generasi penerus. Selama kehidupan berjalan, nanaku akan tetap diceritakan.
Ia mencontohkan longsor besar di Sumatera Utara, akibat manusia gagal merespons alam dengan bijak. Tanah digerus, tanpa perhitungan, tanda-tanda alam diabaikan. Bencana pun datang. “Itu contoh ketika manusia tidak mendengar alam,” ucapnya.
Karena itu, strategi menjaga nanaku, bukan dengan menentang modernitas, melainkan melalui edukasi. Nilai kearifan lokal, kini masuk ke kurikulum sekolah, dari SD hingga perguruan tinggi. Di universitas, ia diperkuat lewat program pengabdian kepada masyarakat, kerja sama langsung dengan komunitas adat.
“Ini bukan soal agama,” tegasnya. “Ini soal membuka hati. Soal saling menerima.”
Di tengah dunia yang terus berubah, nanaku tetap berdiri sebagai ingatan kolektif, pengetahuan yang tidak tertulis, tetapi hidup. Ia mengajarkan bahwa membaca alam bukan sekadar keterampilan, melainkan sikap hidup. Dan selama negeri adat masih menjaga hubungan itu, nanaku akan terus menemukan jalannya, dari generasi ke generasi.
Untuk bertahan
Kebijakan mitigasi di Seram Bagian Barat masih didominasi pendekatan struktural, pembangunan talud pemecah ombak, atau tanggul. Pendekatan ini kerap mengabaikan pengetahuan lokal tentang arus, gelombang, dan dinamika alam setempat. Risiko kebijakan yang mengabaikan Nanaku adalah kegagalan mitigasi dan kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Di Kelang, alam kerap hadir dengan cara yang lebih senyap, memberi isyarat lebih dulu, sebelum benar-benar menjelma bencana. Tanda-tanda itu sering muncul bukan dari langit atau air sungai semata, melainkan dari makhluk-makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Suara anjing, ayam, dan burung menjadi bahasa pertama alam, jauh sebelum sirene atau peringatan resmi terdengar.
Suatu Subuh di Desa Sole seharusnya tenang. Laut biasanya masih gelap, kampung belum sepenuhnya terjaga, namun pagi itu berbeda. Sekitar pukul tiga hingga empat, dini hari, suara-suara tak biasa memecah kesunyian. Anjing menggonggong, tanpa henti, ayam berkokok tak pada waktunya, burung-burung berkicau ramai, seolah ada yang hendak disampaikan. Bagi orang-orang tua di Sole, itu bukan suara biasa. Itu tanda.
“Tapi waktu itu tidak terlalu dipikirkan,” kenang seorang perangkat desa, Muhammad Arsad Pegatong (50). Hujan memang turun, tapi tak deras. Tak ada yang menyangka, beberapa jam kemudian, longsor besar menghantam kawasan Jawa Sakti di desa tersebut. Tanah runtuh, kampung porak-poranda, dan warga dipaksa mengungsi. Tidak ada korban jiwa, saat kejadian tesebut.
Pengalaman itu membekas. Hingga kini, ingatan tentang tanda-tanda alam masih hidup di tengah masyarakat pesisir Desa Sole. Pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, yang dulu dikenal sebagai “komite keilmuan”, namun oleh warga disebut sederhana sebagai tanda orang tua-tua.
Μitigasi bukan perkara mudah. Tantangan terbesar justru ada pada sumber daya manusia. “Tidak bisa hanya berharap pada satu dua orang,” kata Arsad. Semua harus bergerak. Pemerintah desa, masyarakat, relawan, hingga pemerintah daerah.
Masyarakat sebenarnya tahu tanda-tanda alam itu. Saat hujan turun dan malam dipenuhi suara burung, ayam, dan anjing yang tak wajar, itu pertanda. Saat ikan-ikan laut naik ke daratan atau sungai, itu sinyal ombak besar akan datang. Pengetahuan itu hidup, tapi sering dianggap biasa, hingga bencana kembali mengingatkan.
Di Tonu, masyarakat telah melakukan konsep desa tangguh bencana (destana) berangkat dari pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat (PRBM). Prinsipnya sederhana, namun kuat: siapa yang tinggal paling dekat dengan sumber risiko, dialah yang harus paling siap. Dari rumah-rumah warga, sekolah, balai desa, hingga tepian sungai atau laut, komunitas memetakan potensi bahaya, menyusun rencana evakuasi, membangun sistem peringatan dini, dan memanfaatkan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Tujuan dari pengembangan destana menyentuh seluruh lapisan kehidupan desa, bahkan, kini, hingga Sole. Ia berupaya melindungi warga yang tinggal di kawasan rawan —tanah longsor, banjir, gempa, atau tsunami— agar tidak lagi menjadi korban tiap kali bencana datang. Di saat yang sama, proses ini memperkuat kapasitas masyarakat untuk mengelola sumber daya yang mereka miliki: dari pengetahuan lokal hingga alat sederhana yang bisa menyelamatkan nyawa.
Hanya saja, membangun ketangguhan tidak bisa dilakukan sendiri. Destana hadir sebagai jembatan kerja sama: antara warga dan pemerintah, relawan dan perguruan tinggi, sektor swasta dan organisasi masyarakat. Lebih jauh, inisiatif ini menempatkan kearifan lokal sebagai bagian penting dari upaya mitigasi.
Pulau Kelang adalah potret kecil tantangan pulau-pulau kecil Indonesia di tengah krisis iklim. Nanaku menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu harus dimulai dari teknologi mahal, tetapi dari kemampuan membaca alam dan menjaga relasi dengan lingkungan.
Pada akhirnya, Tonu dan Sole adalah cerminan desa yang matang memahami lingkungannya. Sebuah komunitas yang tahu bahwa bencana tak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa diminimalkan. Bahwa ketangguhan bukan datang dari bantuan luar, melainkan dari solidaritas, kesiapsiagaan, dan keberanian warganya.
Di desa-desa itu, masyarakat tidak lagi berkata, “Kami menunggu diselamatkan.” Mereka memilih berkata, “Kami siap menyelamatkan diri dan menjaga satu sama lain.”
Pelaporan ini memperlihatkan bahwa masa depan mitigasi bencana terletak pada kemampuan menganyam tradisi dan sains. Nanaku mengajarkan bahwa membaca alam bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan sikap hidup. Selama masyarakat dan negara mau mendengar satu sama lain, Pulau Kelang masih memiliki harapan untuk bertahan di tengah iklim yang kian tak pasti.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Nanaku dan peran perempuan dalam ketahanan pangan
