Ambon (ANTARA) -
Kepala Kepolisian Resor Tual Ajun Komisaris Besar Polisi Whansi Des Asmoro menjalani operasi setelah terkena anak panah di kaki kiri ketika berupaya melerai bentrokan dua kelompok warga di Desa Fiditan, Kota Tual, Maluku, Selasa (24/2).
"Hari ini Kapolres menjalani operasi pencabutan anak panah di kaki kirinya, semoga proses operasi lancar dan segera diberikan kesembuhan," kata Kepala Bidang Humas Polda Maluku Komisaris Besar Polisi Rositah Umasugi di Ambon, Rabu.
Bentrokan yang berlangsung sejak Selasa sore itu melibatkan pemuda dari Fiditan Kampung Lama dan Fiditan Kampung Baru, yang semula saling serang dengan senjata tajam, seperti busur panah dan parang, serta pelemparan bom molotov.
Situasi sempat memanas di jalan utama Desa Fiditan hingga aparat kepolisian turun langsung ke lokasi untuk meredam kerusuhan.
Kapolres Whansi Des Asmoro terluka ketika sebuah anak panah melesat dan mengenai kaki kirinya di tengah usaha memisahkan kedua kelompok yang bertikai.
Ia kemudian dievakuasi ke RSUD Karel Sadsuitubun Langgur untuk penanganan medis lebih lanjut.
Selain Kapolres, sejumlah warga juga mengalami luka-luka akibat terkena panah dan lemparan batu selama bentrokan berlangsung.
Saat ini penanganan usai kejadian tersebut, pengamanan di perbatasan dua desa sudah dibentuk pos pengamanan gabungan yang terdiri dari TNI dan Polri, kemudian dibantu dari Polres Maluku Tenggara dengan melibatkan 100 personel.
"Situasi sampai saat ini sudah kondusif, kami dari kepolisian mengimbau kepada masyarakat secara umum dan khususnya yang berada di lokasi tempat kejadian perkara di Tual, yaitu Desa Fiditan untuk sama-sama menahan diri dan tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan gangguan kamtibmas,” ucapnya.
Sebelumnya, ketegangan antarwarga di Desa Fiditan mulai terlihat sejak Minggu (22/2) malam dan meningkat pada hari kejadian akibat perselisihan antarkelompok pemuda yang kemudian berkembang menjadi aksi saling serang menggunakan senjata tajam.
Situasi ini tidak bersifat spontan, ketegangan sempat berlangsung beberapa hari sebelum pecahnya bentrokan besar yang melukai Kapolres.
Untuk mengendalikan situasi, ratusan personel gabungan dari Polri dan TNI diterjunkan ke lokasi. Aparat juga menggunakan gas air mata dalam upaya membubarkan massa yang tidak kunjung mereda.
Hingga kini, kondisi keamanan di Desa Fiditan dilaporkan telah kembali kondusif meski aparat masih disiagakan untuk mencegah konflik susulan.
Upaya pendekatan persuasif dan komunikasi intensif dengan tokoh masyarakat setempat juga dilakukan sebagai bagian dari langkah memulihkan hubungan antarwarga setelah insiden bentrokan.
Pewarta: Winda HermanEditor : Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2026