Ambon (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Piru, Seram Bagian Barat, Maluku, melatih warga binaan memproduksi roti sebagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bernilai ekonomi guna membekali mereka dengan keterampilan kemandirian selama menjalani masa pembinaan.

Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Piru, Ode Mustafa, di Seram Barat, Kamis menjelaskan bahwa pelatihan dimulai dari pengenalan bahan baku seperti tepung terigu, ragi, gula, mentega, dan telur, dilanjutkan dengan proses pencampuran dan pengadukan adonan hingga kalis. Setelah adonan mengembang, warga binaan membentuk roti sesuai varian, mengisi cokelat dan sosis, lalu memanggangnya hingga matang.

“Setelah keluar dari oven, roti didinginkan dan langsung dikemas menggunakan kemasan sederhana namun higienis. Kami juga melatih warga binaan menjaga kebersihan, kualitas rasa, dan kerapian kemasan agar produknya layak dipasarkan sebagai produk UMKM,” dia.

Dalam kegiatan pelatihan tersebut warga binaan dilatih mulai dari menakar bahan, menguleni adonan, menyiapkan loyang, hingga mengawasi proses pemanggangan di oven.

“Pada produksi kali ini, warga binaan menargetkan 80 roti aneka rasa sebagai bagian dari unit usaha bakery lapas,” tuturnya.

Ia menambahkan, produksi kali ini difokuskan pada roti cokelat dan roti sosis untuk memenuhi permintaan pelanggan di luar lapas. Pasalnya produk bakery warga binaan telah mendapat respons positif karena rasanya konsisten dan harganya terjangkau.

Warga Binaan Lapas Piru membuat roti sebagai produk UMKM (ANTARA/Dedy Azis)

Kepala Lapas Piru, Hery Kusbandono, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang berkelanjutan.

“Kami konsisten mendorong warga binaan memiliki keterampilan produktif. Program bakery ini sejalan dengan 15 Program Aksi Kemenimipas, khususnya penguatan pemasaran produk hasil karya warga binaan melalui koperasi dan UMKM,” ujarnya.

Dalam hal pemasaran, produk roti warga binaan dipasarkan melalui koperasi lapas, pemesanan langsung oleh masyarakat, serta jejaring mitra lokal di sekitar Piru. Ke depan, Lapas Piru juga mendorong pengembangan pemasaran berbasis promosi sederhana dan peningkatan variasi produk agar memiliki daya saing lebih luas.

Hery menambahkan, selain keterampilan teknis, warga binaan juga dibekali pemahaman tentang tanggung jawab kerja, disiplin produksi, dan semangat kewirausahaan sebagai modal saat kembali ke masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Lapas Piru tidak hanya menghasilkan produk bakery berkualitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga binaan. Setiap roti yang diproduksi menjadi simbol pembinaan yang bermakna, sekaligus harapan baru untuk masa depan yang lebih mandiri.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2026