Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak menguat 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.799 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.805 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah dipicu saran pemerintah China untuk mengurangi kepemilikan obligasi AS.

“Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS yang melemah oleh laporan bahwa pemerintah China menyarankan lembaga keuangan untuk mengurangi kepemilikan obligasi AS,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Dia menyampaikan bahwa pemerintah China telah bertahun-tahun melepas obligasi AS. Saat ini, China mengharapkan institusi di negara tersebut melakukan hal yang sama.

Saran yang diberikan China terkait dengan ketidakpercayaan pada aset itu, dan hubungan yang mendingin di antara kedua negara tersebut.

Di sisi lain, sikap-hati investor menantikan data penjualan ritel Indonesia bulan Desember 2025 membuat penguatan rupiah dianggap akan terbatas.

“(Data penjualan ritel Indonesia) diperkirakan di 5,5 per versus 6,3 persen bulan sebelumnya,” ungkap Lukman.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah menguat dipicu saran pemerintah China untuk kurangi obligasi AS

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026