Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menyampaikan komitmennya dalam mendorong penguatan peran perempuan sebagai pilar utama pembangunan desa dan penggerak ekosistem pariwisata
Ia menekankan bahwa pemberdayaan perempuan melalui organisasi dan komunitas merupakan kunci transformasi pariwisata desa. Melalui bimbingan teknis, pelatihan, penguatan jejaring pemasaran, dan dukungan kebijakan yang berpihak, perempuan dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan keluarga dan kemajuan desa.
“Jika perempuan kuat, keluarga kuat. Jika keluarga kuat, bangsa ini kuat,” kata Edhie dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Hal itu disampaikan Edhie dalam kegiatan Sosialisasi Bimbingan Teknis Reses Ramadan Religi di Dapil Jatim VII 2026, yang mengusung tema Ramadan Religi, Menguatkan Negeri: Perempuan Tangguh, Berdaya, dan Keluarga Sejahtera.
Edhie juga mengutip semangat Raden Ajeng Kartini dengan ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang”, seraya mengajak seluruh elemen perempuan untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan, keberanian, dan pendidikan menuju masa depan yang lebih baik.
Ia pun menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan pariwisata desa melalui kebijakan yang memperluas akses perempuan terhadap pelatihan, pembiayaan, serta penguatan infrastruktur.
Edhie menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan sekolah karakter yang membentuk integritas, disiplin, dan solidaritas sosial.
“Puasa mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan kepedulian. Ramadan bukan hanya menguatkan iman, tetapi juga menguatkan persatuan, ekonomi, dan keluarga,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 64 persen pelaku UMKM adalah perempuan, serta lebih dari 50 persen penduduk Indonesia merupakan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan adalah kekuatan besar dalam pembangunan ekonomi nasional, khususnya pada sektor pariwisata desa.
Pariwisata desa, menurutnya, telah menjadi sektor strategis dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan seperti stunting, kemiskinan ekstrem, rendahnya literasi digital, serta keterbatasan akses pembiayaan dan pemasaran.
Sebagai Wakil Ketua MPR RI, Edhie menegaskan empat komitmen utama:
1. Penguatan ekonomi perempuan, melalui akses permodalan UMKM dan ekonomi kreatif, pelatihan kewirausahaan, serta digitalisasi usaha dan pemasaran.
2. Pengawalan program penurunan stunting, melalui edukasi gizi, penguatan Posyandu, dan kolaborasi bersama PKK serta majelis pengajian.
3. Peningkatan literasi digital, untuk mendukung pengembangan komunitas pariwisata dan penggerak kesejahteraan ekonomi desa.
4. Penguatan nilai Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Dalam sesi dialog terbuka, para peserta menyampaikan berbagai aspirasi terkait penguatan UMKM daerah, mulai dari kebutuhan bimbingan teknis berkelanjutan bagi pelaku usaha makanan khas Ponorogo, penyediaan ruang promosi UMKM di kawasan wisata strategis seperti Benteng dan Museum Trinil, hingga strategi agar produk lokal mampu menembus pasar nasional.
Menanggapi hal tersebut, Edhie Baskoro menegaskan bahwa pengembangan UMKM harus dilakukan secara berkelanjutan, berbasis kebutuhan daerah, serta diperkuat melalui peningkatan kapasitas, branding, dan promosi kreatif.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan pariwisata yang inklusif dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama ekonomi melalui kolaborasi pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku usaha agar pertumbuhan wisata sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan reses ini menjadi titik awal penguatan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, organisasi perempuan, serta komunitas masyarakat dalam membangun ekosistem pariwisata desa yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pimpinan MPR: Perempuan berdaya kuatkan negeri
Pewarta: Fianda Sjofjan RassatUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026