Ambon (ANTARA) -

Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Maluku melakukan penghitungan pergerakan kendaraan (traffic counting) untuk mengantisipasi potensi kemacetan pada arus balik Lebaran, khususnya di sejumlah titik rawan di Kota Ambon serta lintasan penyeberangan utama.

“Traffic counting ini menjadi backup data untuk melihat kecenderungan arus kendaraan, apakah lebih dominan keluar atau masuk kota, sehingga bisa membantu kami bersama kepolisian dan Dinas Perhubungan dalam mengurai kemacetan,” kata Kepala Tata Usaha BPTD Maluku Andreas Widyakusuma, di Ambon, Selasa. 

Ia mengatakan penghitungan dilakukan di antaranya di ruas Jalan Lampu Lima bawah Jembatan Merah Putih (JMP) dan Jalan Jenderal Sudirman (MCM) dengan arah kendaraan masuk ke Kota Ambon  pada pukul 08.00 hingga 18.00 WIT.

Berdasarkan hasil rekapitulasi per 22 Maret 2026 atau H+1 Lebaran Idul Fitri, arus lalu lintas di bawah JMP didominasi sepeda motor dengan total 5.770 unit. Selain itu, tercatat 1.394 mobil pribadi, 819 angkutan kota, 183 kendaraan pickup, serta 139 truk, sementara bus tidak tercatat dalam pengamatan.

Sementara itu, di ruas Jalan Jenderal Sudirman (MCM), volume kendaraan yang masuk ke Kota Ambon tercatat lebih tinggi. Sepeda motor mencapai 10.513 unit, diikuti 4.117 mobil pribadi, 580 angkutan kota, 295 kendaraan pickup, satu unit bus, serta 31 truk.

Ia menjelaskan, data tersebut menjadi bagian dari traffic counting yang digunakan sebagai dasar membaca pola pergerakan kendaraan selama arus mudik dan balik.

Ia menambahkan penghitungan ini juga membandingkan kondisi angkutan Lebaran dengan hari normal, termasuk melihat persentase peningkatan kendaraan yang keluar maupun masuk Ambon.

Menurutnya, saat ini arus balik telah memasuki H+3 dan bertepatan dengan akhir masa libur panjang. Puncak arus balik diperkirakan terjadi pada Jumat, 27 Maret 2026, menjelang aktivitas kerja kembali normal pada Senin, 30 Maret.

“Untuk mengantisipasi lonjakan, kami bersama instansi terkait menyiapkan berbagai langkah, termasuk kemungkinan penambahan trip penyeberangan,” ujarnya. 

Pada arus mudik sebelumnya, lintasan Hunimua–Waipirit sempat diberlakukan operasional hingga 24 jam dengan peningkatan trip dari rata-rata 12–13 trip menjadi sekitar 17 hingga 19 trip per hari. Skema ini berpotensi kembali diterapkan pada puncak arus balik, menyesuaikan kondisi di lapangan.

Selain itu, peningkatan juga mulai terlihat di lintasan lain seperti Galala–Namlea, di mana jumlah penumpang mencapai 115 orang dalam satu keberangkatan, lebih tinggi dari rata-rata normal yang biasanya di bawah 100 penumpang.

BPTD Maluku juga menyiagakan personel di sejumlah titik pemantauan, di antaranya Pelabuhan Hunimua sebanyak 8–9 orang, Galala 12 orang, serta tim traffic counting di kawasan depan MCM dan bawah Jembatan Merah Putih masing-masing 12 orang. Sementara di Wayame dan Suli masing-masing enam personel, serta empat personel di Posko Pelabuhan Yos Sudarso.

Melalui langkah tersebut, BPTD Maluku berharap pergerakan arus balik dapat terpantau secara optimal dan potensi kemacetan di sejumlah titik dapat diantisipasi sejak dini.



Pewarta: Winda Herman
Editor : Ikhwan Wahyudi

COPYRIGHT © ANTARA 2026