Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku Burhan Banjar mengatakan daerah ini aman dari peredaran daging sapi dan ayam oplosan. "Yang busuk itu daging sapi impor, sedangkan barang-barang impor tidak langsung masuk Ambon, melainkan melalui Jakarta dan Surabaya," kata  Burhan Banjar, di Ambon, Jumat. Ia mengatakan daging sapi yang dijual di Ambon dipasok melalui perdagangan antar pulau di Maluku dan pasokannya dalam bentuk ternak sapi. Ternak-ternak sapi itu berasal dari peternakan di dua pulau terbesar di provinsi ini, yakni Buru dan Seram. Sementara itu, ayam dipasok oleh pengusaha lokal dari perusahaan di Surabaya dalam suatu kerjasama yang telah berlangsung bertahun-tahun dan berjalan baik. "Di Maluku khususnya di Ambon, tidak pernah ditemukan daging sapi atau ayam yang dijual di swalayan atau pasar-pasar tradisional yang telah membusuk," kata Burhan Banjar. Dari pantauan di pasar tradisonal Mardika, Kota Ambon, tidak dijumpai daging sapi ataupun ayam yang telah membusuk. Keluhan dari pembeli pun tak ada. "Saya belum pernah mendapatkan daging sapi oplosan," kata Rina, seorang pembeli di pasar tradisional Mardika. Sementara Amir, penjual daging sapi di pasar tersebut mengatakan, menyembelih tiga - empat ekor sapi sehari yang dijual mulai pukul 01.00 - 13.00 WIT. Sapi-sapi yang disembelih itu ditargetkan untuk penjulan sehari. "Jika tidak terjual semua akan saya simpan di lemari pendingin. Paling banyak stok daging di lemari pendingin berkisar 50 Kg untuk mengantisipasi permintaan pelanggan yang datang tiba-tiba pada sore atau malam hari," kata Amir. Ia mengatakan jika daging yang disimpan di lemari pendingin itu tidak terjual pada hari itu, maka akan dijual pada besok harinya. "Belum pernah ada daging yang tidak terjual lewat dua hari, karena setiap hari pelanggan saya mulai dari penjual bakso, pengusaha restoran maupun pembeli rumah tangga datang membeli," kata Amir. "Beras Super" Ketika ditanyakan tentang konsumsi beras, Burhan Banjar mengatakan hampir 80 persen masyarakat di Pulau Ambon mengkonsumsi beras diatas kualitas super. "Kami baru menyadari bahwa hampir 80 persen masyarakat Pulau Ambon mengkonsumsi beras yang kualitasnya di atas super setelah melihat penjualan beras Bulog dalam operasi pasar sangat kecil," kata Burhan Banjar. Menurut dia, permintaan masyarakat terhadap beras Bolug sangat kecil disebabkan kualitasnya kalah dibanding beras pedagang. Kualitas Beras Bulog yang pecah, katanya, berkisar 15 - 20 persen per karung. Sedangkan beras pedagang yang pecah hanya berkisar lima sampai 10 persen per karung. Selain itu, beras pedagang lebih bersih, pulen dan enak dibanding beras Bulog sehingga animo masyarakat lebih condong ke beras pedagang. "Padahal beras Bulog itu kualitasnya sama dengan beras pedagang merek AAA," kata Burhan Banjar. Rata-rata masyarakat Kota Ambon mengkonsumsi beras pedagang merek Tawon dan Bulir Mas. Sementara yang mengkonsumsi beras jenis AAA hanya sebagian kecil. "Operasi pasar" Burhan Banjar mengatakan, sudah melaksanakan Operasi Pasar (OP) beras, bekerjasama dengan Perum Bolug Divisi Regional (Divre) Maluku dan Maluku Utara sejak 23 Juli 2010 untuk menekan harga komoditas tersebut yang cenderung naik sejak bulan itu, namun penjualan hingga kini masih sedikit. Padahal, sejak Juli - Agustus perhelatan internasional digelar di Maluku, yakni Sail Indonesia ke-10; Sail Banda 2010 yang tentunya mengundang banyak pengunjung baik nusantara maupun mancanegara yang berakibat pada permintaan beras yang semakin tinggi. Selain itu, umat Muslim juga melaksankan ibadah puasa Ramadhan sejak 11 Agustus. Dia mengatakan, pelaksanaan OP beras dirasa sudah efektif untuk menjamin ketersediaan kebutuhan pokok itu hingga Ramadhan. "Hanya saja, mungkin pola konsumsi masyarakat di daerah ini yang mulai berubah, lebih suka mengkonsumsi beras diatas kualitas super. Itu mengindikasikan bahwa ada peningkatan pendapatan masyarakat perkotaan," katanya. Pada kesempatan lain, Kadivre Bulog Maluku dan Maluku Utara, Nono Sudyono, mengatakan, OP beras dilakukan di dua titik di Pulau Ambon, masing-masing di kawasan Mardika, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon dan Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. "Tapi animo masyarakat terhadap beras Bulog ini sangat kurang. Terbukti dari angka penjualan yang baru berkisar 40-an ton," kata Nono Sudyono.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026