"Tahun depan kami mulai semua studi `upwelling` di Indonesia dan akan dipusatkan di Ambon," kata Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPLD-LIPI) Augy Syahailatua di Ambon, Rabu.
Upaya menjadikan Ambon sebagai "Center for Upwelling Study", kata dia, merupakan salah satu program kerja sama jangka panjang antara pihaknya dengan First Institute of Oceanografi (FIO) Tiongkok dan University of Maryland, Amerika Serikat.
Guna melancarkan program itu, PPLD-LIPI mulai berbenah dengan menerapkan standarisasi untuk operasional, baik yang berhubungan dengan penelitian maupun administrasi, dan berencana merevitalisasi seluruh laboratorium secara bertahap hingga 2020.
"Tantangannya memang berat, kami juga harus menyiapkan infrastruktur dasar dan sumber daya manusia yang mumpuni, karena dalam pelaksanaannya bukan hanya kerjasamanya saja tapi `partnership-nya` itu equal, peneliti kita dan mereka setara," ujarnya.
Menurut Augy, secara umum "upwelling" berguna untuk menyuburkan perairan.
Pihaknya ingin mengkaji lebih dalam mengenai faktor alam apa saja yang berpengaruh terhadap terjadinya fenomena tersebut.
Terkait dengan hal itu, PPLD-LIPI akan memasang "buoy mooring" di Teluk Ambon pada kedalaman 600 meter dari atas permukaan laut untuk mendeteksi kecepatan arus, suhu, salinitas, dan massa air.
Satu peneliti dan teknisi PPLD-LIPI akan diberangkatkan ke Qingdau, Tiongkok untuk mempelajari mekanisme pemasangan "buoy mooring" sekaligus membawa data-data penelitian ekspedisi laut Banda dari 2013 untuk dianalisa.
"Yang kita ingin tahu itu adalah mekanisme detailnya, berapa kecepatan angin baru bisa terjadi `upwelling`, kemudian berapa massa air yang akan terangkat saat itu dan hubungannya dengan faktor alam apa saja, selain angin musim yang sudah kita tahu," ucapnya.
Dia mengatakan perhatian Tiongkok terkait dengan sains di bidang kelautan luar biasa. Mereka memiliki tiga lembaga oseanografi dan baru saja menambah fasilitas berlevel nasional, yakni Qingdau National Laboratory for Marine Science and Technology.
Ia mengatakan bahwa "Negeri Tirai Bambu" itu juga sebentar lagi akan memiliki institut oseanografinya yang keempat, "Fourth Institute of Oceanography" dengan fokus studi untuk Laut China Selatan.
"Kami ingin untuk ke depan PPLD tetap eksis, benar-benar menjadi pusat untuk penelitian laut dalam di Indonesia," kata Augy.
Pewarta: Shariva AlaidrusEditor : John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.