Pemerintah Kota Ternate, Maluku Utara, mengembangkan program satu bayi satu pohon, artinya setiap bayi yang lahir di Kota Ternate ditindaklanjuti dengan penanaman satu pohon.
Kabag Humas dan Protokoler Pemkot Ternate Yunus mengatakan di Ternate, Senin, program tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah kota dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mencegah pemanasan global.
Program satu bayi satu pohon tersebut akan dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate. Instansi ini akan berkordinasi dengan seluruh rumah sakit dan Puskesmas di Kota Ternate untuk mendapatkan data kelahiran bayi di daerah ini.
Menurut Yunus, Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate akan langsung menanam pohon setiap mendapat data adanya kelahiran bayi dari rumah sakit atau Puskesmas setempat.
"Lokasi penanaman pohon untuk sementara diprioritaskan pada sejumlah kawasan hijau di Kota Ternate," katanya
Sejauh ini Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate telah menanam lebih dari seratus pohon terkait dengan program satu bayi satu pohon tersebut, pohon yang ditanam umumnya pohon pelindung seperti sengon laut dan pinus.
Yunus mengharapkan setiap orang tua yang melahirkan bayi di Kota Ternate juga ikut menanam minimal satu pohon di lahan pekarangan atau kebun masing-masing sebagai wujud partisipasi menghijaukan daerah ini.
Para aktivis lingkungan di Maluku Utara memberi apresiasi positif terhadap program Pemkot Ternate karena akan memberi kontribusi besar dalam perbaikan lingkungan di daerah ini.
"Program tersebut jelas sangat baik, tetapi kegiatan penanaman pohon di daerah ini hendaknya jangan hanya didasarkan pada adanya kelahiran bayi, harus juga melalui program lain dengan jumlah pohon yang ditanam tidak terbatas," kata aktivis lingkungan di Maluku Utara Djafar.
Hal lainnya yang harus menjadi perhatian dari Pemkot Ternate adalah maraknya pembangunan permukiman di lereng Gunung Gamalama karena bisa menyebabkan longsor.
Pembangunan permukiman di sejumlah lokasi pantai di Kota Ternate juga harus ditertibkan, karena selain dapat merusak kelestarian pantai, juga untuk mengantisipasi terjadinya bahaya kalau ada gelombang pasang.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.