Ambon (Antara Maluku) - Lukisan cadas berusia ribuan tahun pada tebing setinggi kurang lebih 20 meter dari garis pantai Desa Wamkana, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan, terancam rusak karena kondisi alam.

"Situs lukisan cadas Wamkana terancam rusak karena kondisi alam, ini dipengaruhi oleh kelembaban udara dan terpaan angin mempengaruhi semakin pudarnya gambar-gambar yang ada," kata Kepala Balai Arkeologi Ambon, Muh. Husni di Ambon, Kamis.

Ia mengatakan, lukisan cadas prasejarah yang berisi gambar-gambar dengan figur "manusia kangkang", perahu, pohon, dan lainnya dalam warna merah dan hitam tersebut belum banyak dieksplorasi dalam penelitian yang lebih mendalam, sehingga penanggalan absolut terkait usianya belum bisa diketahui secara pasti.

Kendati demikian, situs Wamkana telah dilindungi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) yang berkedudukan di Ternate, Maluku Utara, dan dijaga oleh seorang juru kunci.

"Belum ada penanggalan absolut tapi kalau perkiraannya saja mungkin sekitar 2.500 hingga 3.000 tahun yang lalu, dengan kondisinya yang sekarang memang harus segera dibuat pendokumentasian," katanya.

Ahli prasejarah dari Balai Arkeologi Ambon, Marlon Ririmasse mengatakan, kalau berdasarkan teori rock art atau lukisan cadas, merupakan peninggalan tradisi zaman Mesolitik, yang mana menggambarkan telah berkembangnya budaya religi dalam kehidupan manusia.

"Setiap motif memiliki makna tertentu, begitu juga dengan penggunaan warna, tapi warna di tiap daerah memiliki makna masing-masing, hingga kini lukisan cadas tertua masih berada di wilayah Prancis, usianya sekitar 40.000 tahun lalu," katanya.

Sementara itu pakar kolonial, Syahruddin Mansyur yang juga arkeolog dari Balai Arkeologi Ambon mengatakan, ketika melakukan penelitian terkait kolonialisme di Kabupaten Buru Selatan pada pertengahan Februari 2015, dirinya menemukan adanya aksi vandalisme di tebing tempat beradanya lukisan cadas Wamkana.

Meski tidak berada dekat dengan lukisan-lukisan purba tersebut, tapi tulisan-tulisan vandalisme tersebut sangat merusak keindahan tebing, selain itu, dirinya juga melihat ada upaya penggerusan beberapa lukisan yang ada.

"Ada gambar yang terlihat seperti sengaja dihapus, digerus dengan sesuatu sehingga tidak terkesan warnanya memudar secara alami," katanya.

Pewarta: Shariva Alaidrus

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2015