Pemerintah Provinsi Maluku menjadikan pengembangan industri pengolahan kelapa dan pala sebagai langkah strategis untuk mendukung percepatan program hilirisasi pertanian di daerah itu.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku Ilham Tauda di Ambon, Senin, mengatakan penguatan industri berbasis komoditas unggulan tersebut merupakan tindak lanjut kebijakan nasional serta hasil koordinasi lintas sektor yang digelar Dinas Pertanian Maluku.

“Terkait hilirisasi pertanian di Provinsi Maluku, kami telah melaksanakan rapat koordinasi yang melibatkan Kementerian Pertanian dan seluruh pemangku kepentingan terkait,” katanya.

Ia menjelaskan, rapat koordinasi tersebut menghadirkan Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Menurut dia, rakor tersebut membahas tindak lanjut pertemuan Gubernur Maluku dengan Menteri Pertanian, yang kemudian diperkuat melalui pertemuan Komisi II DPRD Maluku bersama Menteri Pertanian yang turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Maluku Johan Lewerissa.

“Dari hasil rakor tersebut disepakati bahwa Maluku akan mengembangkan dua industri pengolahan, yakni industri pengolahan kelapa dan industri pengolahan pala,” ujar dia.

Ia menegaskan, pengembangan dua industri tersebut merupakan bagian dari program Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan, khususnya tanaman perkebunan rakyat.

“Syukur Alhamdulillah, ini kabar baik bagi Maluku karena kita akan memiliki industri pengolahan kelapa dan pala sebagai komoditas unggulan daerah,” kata Ilham.

Ilham menjelaskan, secara potensi, Maluku merupakan salah satu sentra pala nasional. Berdasarkan data luas areal dan produksi tanaman perkebunan rakyat, berdasarkan data terakhir BPS Maluku, total areal pala di Maluku mencapai 31.624 hektare dengan jumlah petani sekitar 28.360 kepala keluarga dan produksi mencapai 5.512 ton.

Produksi pala terbesar berada di Kabupaten Maluku Tengah dengan luas areal sekitar 11.155 hektare, melibatkan 14.521 petani, dan produksi mencapai 2.134 ton. Selanjutnya Kabupaten Seram Bagian Timur dengan luas areal 8.831 hektare dan produksi 1.287 ton, serta Kota Ambon dengan produksi mencapai 746 ton.

Selain itu, pala juga dikembangkan di Kabupaten Maluku Tenggara, Buru, Seram Bagian Barat, Buru Selatan, Maluku Barat Daya, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, dan Kota Tual, yang secara keseluruhan menunjukkan ketersediaan bahan baku yang memadai untuk mendukung industri pengolahan.

Ia menambahkan, dua industri pengolahan kelapa dan pala tersebut direncanakan akan dikembangkan di kawasan PTPN I Regional VIII Ayawaiya, Kabupaten Maluku Tengah, sebagai investasi murni badan usaha milik negara (BUMN) melalui Danantara, yang dialokasikan untuk Provinsi Maluku.

“Arahan dari Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan sangat jelas bahwa kedua industri ini akan dibangun di Maluku, dan pada tahap selanjutnya direncanakan akan dilakukan peletakan batu pertama oleh Presiden,” katanya.

Pihaknya pun telah melaporkan perkembangan tersebut kepada Gubernur Maluku dan diminta untuk mengawal proses realisasi program, termasuk percepatan perizinan dan kesiapan pendukung lainnya.

Menurut dia, hilirisasi industri kelapa dan pala akan meningkatkan nilai tambah produk, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta mempermudah akses pemasaran bagi petani.

“Ini kesempatan emas bagi Maluku. Kami berharap seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, dapat memberikan dukungan penuh agar rencana pengembangan industri ini segera terealisasi,” ujar dia.

Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis

Editor : Moh Ponting


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2026