Ambon, 25/10 (Antara Maluku) - Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon akan segera menggelar kegiatan "Panas Pela".

"Mungkin pada Desember nanti, sedang dipikirkan bersama, kami ingin merancanganya menjadi satu rangkaian kegiatan," kata Direktur Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) IAIN Ambon Abidin Wakano, di Ambon, Selasa.

Ia mengatakan Panas Pela antara UKIM dan IAIN Ambon merupakan lanjutan dari "Angkat Pela" yang digelar saat Konferensi Internasional tentang Pendidikan Agama Inklusif (International Conference on Inclusive Religious Education) oleh Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations di dua perguruan tinggi itu, pada Agustus 2016.

Dalam terminologi budaya Maluku, Pela merupakan ikatan kekerabatan yang dibuat antar masyarakat dari dua atau tiga kampung yang dikenal dengan "Angkat Pela", prosesnya pun dilakukan mengikuti upacara adat setempat.

Berdasarkan sejarah tutur, ikatan persaudaraan tersebut telah mulai ada sebelum era penjajahan, dan terus diperbaharui oleh tiap generasi melalui "Panas Pela" untuk mengingatkan adanya ikatan persaudaraan yang disebut dengan "Saudara Pela".

"Pela adalah hasil konstruksi sosial budaya masyarakat kita, dibentuk untuk saling menjaga dan tolong-menolong. Di tengah maraknya "hate speech" dalam masyarakat, juga kekerasan di kalangan remaja dan pemuda, konsep ini menjadi modal sosial kultural yang bisa diadopsi dalam upaya menjaga perdamaian," katanya.

Abidin yang juga Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku berharap apa yang telah dimulai oleh UKIM dan IAIN Ambon, bisa juga dilakukan oleh perguruan tinggi lainnya di Maluku, guna mempererat ikatan persaudaraan dan persahabatan antar generasi muda di daerah tersebut.

"UKIM dan IAIN Ambon telah menjadi pelopor untuk di tingkat perguruan tinggi, kami berharap ini juga bisa diikuti oleh universitas yang lain, karena kalau sudah sudah saling mengangkat Pela dengan sendirinya akan terbangun rasa saling menjaga dan respek antar sesamanya," tandasnya.

Dalam upaya membangun rekonsiliasi dan mediasi antar umat di Maluku, Abidin mengatakan ARMC IAIN Ambon sangat menaruh perhatian pada living values education (pendidikan menghidupkan nilai) dan multikulturalisme sejak tahun 2012.

ARMC telah membina sedikitnya 60 orang guru SMP dan SMA di Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat untuk mengembangkan program yang berkaitan dengan pendidikan menghidupkan nilai dan multikulturalisme di sekolah, baik melalui kegiatan ekstrakurikuler, orientasi maupun lainnya yang berkaitan dengan pembelajaran bagi siswa.

Selain itu, ARMC juga menggelar Angkat Pela lintas sekolah antara SMP Negeri 9 Ambon yang 90 persen pelajarnya beragama Kristen dengan SMP Negeri 4 Salahutu yang mayoritas muslim, dalam kegiatan perkemahan remaja tiga tahun lalu.

"Sudah tiga tahun sejak Angkat Pela pertama, kami kemudian menggelar Panas Pela antar dua SMP tersebut saat Konferensi Internasional tentang Pendidikan Agama Inklusif, baru-baru ini," katanya.

Pewarta: Shariva Alaidrus

Editor : John Nikita S


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2016