Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Holtekamp, Muara Tami, Jayapura, rusak akibat terjangan tsunami, pada Jumat malam lalu (11/3). Kepala Bidang Humas PLN Papua, Rilwahnu Ahkam, kepada wartawan di Jayapura, Senin mengatakan,  bangunan PLTU yang sedang dalam penggarapan itu mengalami kerusakan antara lain di bagian dinding luar tembok proyek jebol, serta pos kontraktor dan ruang penjagaan rusak. Namun demikian, dinding bangunan utama proyek tidak mengalami kerusakan yang berarti,  katanya. Menyinggung jumlah kerugian yang dialami pihak PLN, Rilwahnu Ahkam mengaku belum dapat memastikannya. "Saat ini masih dalam proses pengecekan termasuk pembersihan lokasi." Terkait waktu operasi PLTU tersebut, dia menjelaskan, sesuai target akan mulai dioperasikan pada Desember 2011, akan tetapi dengan kejadian tsunami yang belakangan ini melanda, masih perlu melakukan pendataan ulang. "Kalau ada proyek bangunan fisik vital yang rusak, maka diperkirakan waktu pengoperasian bisa molor. Kami sih berharap tidak demikian," ujarnya. Di tempat terpisah, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Daerah Kota Jayapura, Yohanis Wemben kepada wartawan di Jayapura, menjelaskan, berdasarkan data pihaknya, gelombang tsunami itu tercatat merusak 43 rumah dan sejumlah fasilitas umum lainnya. Selain itu, bencana tersebut juga menelan seorang korban jiwa, katanya. "Lokasi bangunan rumah yang rusak itu antara lain di Kampung Tobati 14 rumah rusak berat dan tiga rusak ringan. Di Kampung Enggros ada sembilan rumah yang rusak, di daerah Holtekam 19 rumah dan Hanurata 13 rumah," kata Yohanis Wemben. Menurut dia, kerusakan terparah ada di Kompleks Hanurata, Distrik Muara Tami, yang berjarak sekitar 75 kilometer dari pusat Kota Jayapura, yang juga merupakan lokasi PLTU. Dikatakannya, selain rumah, sejumlah fasilitas umum milik masyarakat lainnya juga mengalami kerusakan akibat tsunami yang muncul sejauh 200 meter dari bibir pantai itu. Pantauan wartawan ANTARA di sejumlah lokasi yang terkena tsunami, selain berupa puluhan rumah juga fasilitas umum lainnya. Di daerah Holtekamp, rumah dan perahu serta jaring warga tersapu hingga radius 50 meter dari bibir pantai. Berdasarkan laporan masyarakat setempat, tsunami "kiriman" dari  Jepang itu menerjang sejumlah titik di Kota Jayapura pada Jumat malam sekitar pukul 23.00-24.00 WIT. Pascakejadian, pihak BMKG Papua sekitar pukul 16.15 WIT mengeluarkan peringatan akan bahaya tsunami susulan yang akan terjadi di wilayah perairan utara Papua. Peringatan tersebut akhirnya secara resmi dicabut sekitar pukul 21.30 WIT. Adanya peringatan bahaya tsunami itu membuat seluruh warga pesisir pantai di Jayapura mengungsi ke tempat-tempat yang dinilai aman.


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026