Ambon (Antara Maluku) - Potensi sumber daya perikanan di perairan Maluku mencapai 457.240 ton per tahun, kata Kepala Bidang Ekonomi Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Maluku, Anton Lailossa.

"Berdasarkan kajian data base Dinas Perikanan dan Keluatan Maluku, potensi tersebut tersebar di tiga perairan, antara lain Laut Banda sebanyak 240.948 ton per tahun, laut Arafura 171.093 ton per tahun dan laut Seram 45.199 ton per tahun," katanya di Ambon, Senin.

Lailossa mengatakan, potensi itu dipengaruhi kondisi geografis Maluku yang luas wilayahnya 92,4 persen (658.294,69 kilometer persegi) adalah laut. Sementara luas daratan hanya 7,6 persen (54.185 kilometer persegi).

Selain itu, Maluku berada dalam sabuk segi tiga emas terumbu karang dunia yang terbentang dari Malaysia - Filipina ke arah selatan menuju Timor Leste. Selanjutnya ke Utara melewati Papua hingga Kepulauan Salomon di Samudera Pasifik.

"Kondisi oseanografi perairan (laut) di Maluku menjadikannya sebagai jalur migrasi jenis ikan bernilai ekonomis tinggi," katanya.

Ia menjelaskan, hasil kajian terhadap stok ikan di Wilayah Penangkapan Provinsi (WPP) Maluku pada 2001 yang dilakukan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP setempat bekerja sama dengan LIPI Ambon diketahui potensi perikanan tangkap sebesar 1.640,030 ton per tahun.

Jumlah itu berasal dari potensi ikan pelagis besar dan kecil masing-masing per tahun 261.490 dan 980.120 ton, ikan demersal 295.500 ton, ikan karang 47.600 ton, udang 44.000 ton per tahun, lobster 800 ton dan cumi 10.520 ton per tahun.

"Namun pemanfaatannya kala itu masih 657.453 ton per tahun atau hanya 40,09 persen dari total potensi yang ada," katanya.

Data yang diperoleh dari Bappeda Maluku menyebutkan, pada 2005 produksi perikanan tangkap di daerah itu hanya 589.058 ton per tahun. Pada 2006 bergerak naik ke level 601.816 ton, 2007 meningkat menjadi 623.727 ton, 2008 turun pada kisaran 458.682 ton dan 2009 hanya 467.220 ton per tahun.

Menurunnya produksi perikanan itu membuat Pemprov Maluku memproyeksikan program 2010 - 2014 dengan target kenaikan sebesar 1,2 persen per tahun.

Menurut Lailossa, permasalahan pengembangan komoditas unggulan di Maluku, antara lain di sektor perikanan tangkap dipengaruhi sejumlah faktor, yakni skala ekonomi yang belum mencukupi, keterbatasan infrastruktur, kesulitan pelaku usaha dalam mengakses modal dan gagap teknologi serta kurangnya dukungan kebijakan dari pemerintah.

"Karena itu, ada enam strategi pembangunan ekonomi Maluku yang dirancang untuk 2011 - 2015, antara lain pengembangan bisnis dan basis ekonomi, dan Peningkatan konektivitas dan kualitas lingkungan fisik pendukung perekonomian," katanya.

Selain itu juga dikembangkan sumberdaya manusia dan iptek pendukung perekonomian, konektivitas kelembagaan pendukung perekonomian, program-progran pemerataan pembangunan dan sistem pendukung stabilitas harga.

Pewarta: Rosni Marasabessy
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026