Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halut, Yudhi H. ketika dihubungi di Tobelo, ibukota Kabupaten Halut, Selasa, mengatakan, instansi teknis di Halut kini tengah mendata petani di kaki Gunung Dokuno yang tanamannya rusak akibat erupsi gunung itu pada akhir Mei 2012.
Sebelumnya, ratusan petani jagung dan sayur-sayuran di sejumlah desa di kaki Gunung Dokuno mengaku tanaman mereka tak bisa dipanen, karena terkena abu vulkanik erupsi Gunung Dokuno. Karena itu mereka sangat mengharapkan bantuan dari pemda setempat.
Yudhi mengatakan, selain bibit pemkab Halut juga akan memberikan bantuan pupuk dan pestisida kepada para pentani korban erupsi Gunung Dokuno tersebut, yang jumlahnya disesuaikan dengan luas lahan masing-masing petani.
Pemberian bantuan yang dananya dialokasikan dari APBD tersebut merupakan bentuk kepedulian pemkab Halut kepada para petani di sekitar kaki Gunung Dokuno yang menderita kerugian akibat tanamannya terkena abu vulkanik erupsi Gunung Dokuno.
Menyinggung banyaknya warga pada sejumlah desa di kaki Gunung Dokuno yang menderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akibat menghirup abu vulkanik erupsi Gunung Dokuno, ia mengatkan, Dinas Kesehatan Halut telah melakukan langkah-langkah penanganan di lapangan.
Dinas Kesehatan Halut sejak Gunung Dokuno meletus akhir Mie 2012, telah membentuk posko pada sejumlah kecamatan yang terkena abu vulkanik erupsi gunung itu untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga setempat.
"Kami telah mendistribusikan lebih dari 40.000 masker kepada warga di daerah yang terkena erupsi Gunung Dokuno untuk mencegah dampak dari abu vulkanik gunung itu. Kami juga sudah memberikan penyuluhan kepada warga mengenai cara menghindari dampak dari abu vulkanik gunung itu," katanya.
Gunung Dokuno sejauh ini masih berstatus waspada level II dan masih sering mengeluarkan semburan asap disertai pasir halus yang jika tertiup angin menyebar hingga ke permukiman warga di kaki gunung itu bahkan sering sampai ke kota Tobelo.
Pewarta: La Ode Aminuddin: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.