Ambon (Antara Maluku) - Persediaan terpal di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku maupun Kota Ambon dan Dinas Sosial tidak bisa memenuhi permintaan warga yang menjadi korban tanah longsor maupun banjir.

Ricardo (30), seorang warga Kelurahan Karangpajang, Kecamatan Sirimau, mengatakan dirinya tidak mendapatkan terpal karena sudah habis terbagi untuk menutupi tanah longsor di berbagai kawasan Pulau Ambon.

"Saya mendatangi Posko penanggulangan bencana Pemkot Ambon maupun BPBD Maluku untuk meminta terpal, namun persediaannya sudah habis sejak beberapa hari lalu," katanya kepada ANTARA, Sabtu.

Petugas posko penanggulangan bencana maupun BPBD mengakui persediaan terpal dan skop atau pacul yang diberikan pemerintah masih terbatas sehingga tidak mampu memenuhi permintaan masyarakat yang mengalami musibah dalam jumlah besar seperti bencana alam tanggal 1 Agustus 2012.

"Dari penjelasan petugas di BPBD misalnya, mereka hanya mendapat jatah 150 lembar terpal yang disiapkan sewaktu-waktu memenuhi permintaan warga yang menjadi korban tanah longsor," katanya.

Keluhan serupa juga datang dari warga Ahuru, Karangpanjang dan Batumerah yang mengaku kesulitan mendapatkan terpal untuk menutupi tanah longsor di sekitar rumah mereka karena terbatasnya persediaan.

Warga berharap kepada pemerintah provinsi maupun kota Ambon untuk menyiapkan terpal, cangkul, skop dan peralatan penting lainnya di Posko penanggulangan bencana dalam jumlah yang lebih banyak, sehingga tidak terjadi kekurangan saat terjadi bencana alam yang begitu besar dampaknya seperti saat ini.

Plh Kepala BPBD Maluku, Zulkifli Wakano mengatakan, bencana banjir dan tanah longsor selama beberapa hari terakhir dan puncaknya pada Rabu (1/8) menimbulkan kerusakan kerusakkan pada 27 titik di berbagai sudut Pulau Ambon.

Bencana alam ini merendam ratusan ribuan rumah penduduk dan menewaskan 11 orang serta 2.159 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang aman.

Pewarta: Daniel Leonard
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026