Ambon (Antara Maluku) - Penumpang mudik lebaran yang turun dan naik di pelabuhan Namlea ibu kota Kabupaten Buru dengan menggunakan Kapal Lambelu mencapai ribuan orang.

"Penumpang mudik yang menggunakan kapal Lambelu di Namlea jumlahnya  mencapai 5.000 orang," kata General Manager PT Pelni Cabang Ambon, Didik Dwi Prasetio, Rabu.

Dia mengatakan, penumpang mudik yang naik maupun turun di pelabuhan tersebut jumlahnya cukup banyak, antara 2.000 sampai 5.000 orang sehingga lebaran 2013 mendatang tidak memungkinkan lagi dilayani satu kapal.

"Memang untuk masa yang akan datang kapal yang menyinggahi pelabuhan Namlea tidak bisa dilayani satu kapal. Kita harap pemerintah daerah mengusulkan ke pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan untuk mendapatkan penambahan kapal," kata Prasetio.

Menurutnya, kalau bisa setelah lebaran sudah ada penambahan kapal, karena ribuan orang masuk ke wilayah itu yang bekerja sebagai penambang emas rakyat di Gunung Botak.

Jadi lonjakan penumpang mudik lebaran baik yang turun maupun naik hanya terjadi di Namlea sedangkan daerah yang lain masih normal.

Menyinggung lonjakan penumpang yang mudik lebaran 2012 sampai dengan H-6 di pelabuhan Yos Soedarso, Pelabuhan Slamet Riyadi Kota Ambon maupun pelabuhan Hunimua Desa Liang Pulau Ambon, menurut Prasetio belum ada.

Pelni memperkirakan lonjakan arus penumpang akan terjadi pada H-4 ketika kapal Gunung Dempo tiba tanggal 16 Agustus dan H-2 pada saat Kapal Lambelu tiba tanggal 18  Agustus 2012 dimana kedua kapal ini berlayar dari Ambon tujuan Bau-Bau, Makasar dan Surabaya.

"Sampai saat ini situasi  penumpang yang mudik melalui pelabuhan Yos Soedarso Ambon dengan tujuan Bau Bau, Makasar dan Surabaya masih normal," katanya.

Sedangkan  penumpang mudik lebaran di wilayah Maluku belum terlihat terjadi lonjakan.  
"Ada penumpang yang mudik ke Namrole, Ibu Kota Kabupaten Buru Selatan dengan menggunakan kapal Pangrango tapi jumlanya tidak banyak sekitar 127 orang. Jadi tidak ada  lonjakan penumpang yang cukup signifikan di Maluku, karena biasanya jumlahnya hanya ratusan orang belum sampai ribuan," jelas Prasetio.

Ia menambahkan, untuk masalah cuaca pihaknya tetap mengikuti berita dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ambon terutama cuaca ekstrim di wilayah Maluku begitu juga larangan berlayar dari Administrator Pelabuhan (Adpel).

"Kita berlayar harus mengikuti berita dari BMKG dan ketentuan larangan berlayar dari Adpel apabila kondisi cuaca ekstrim," kata Prasetio.

Pewarta: Rosni Marasabessy
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026