"Kenaikkan ini disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani sebesar 2,45 persen lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 2,32 persen," kata SAJ Sahertian Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku di Ambon, Kamis.
Dia mengatakan, capaian NTP tertinggi pada bulan Juli 2013 terjadi di sub sektor perikanan sebesar 127,33.
NTP Provinsi Maluku pada Juni 2013 mengalami kenaikan pada sub sektor perikanan sebesar 1,57 persen dan sub sektor hortikultura sebesar 1,27 persen.
Sedangkan sub sektor tanaman pangan , sub sektor tanaman perkebunan rakyat dan sub sektor peternakan mengalami penurunan masing - masing 1,25 persen ,0,89 persen dan 0,93 persen.
Menurutnya, pada bulan Juli 2013 terjadi inflasi di daerah perdesaan di Provinsi Maluku sebesar 2,55 persen, yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga ditiap - tiap kelompok pengeluaran rumah tangga yakni tertinggi pada kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 10,29 persen diikuti kelompok bahan makanan sebesar 3,44 persen.
Selanjutnya kelompok pendidikan , rekreasi dan olahraga sebesar 2,02 persen kelompok makanan jadi, minuman, rokok,dan tembakau sebesar 1,44 persen, kelompok perumahan sebesar 0,46 persen, kelompok sandang sebesar 0,23 persen dan terendah kelompok kesehatan sebesar 0,22 persen.
Dia menjelaskan, tingginya inflasi dikelompok transportasi dan komunikasi dipicu oleh kenaikkan tarif angkutan bermotor dan ongkos ojek motor pasca kenaikan harga BBM Juni 2013, yang juga berimbas pada kenaikan harga bahan makanan khususnya untuk komoditi ikan dan sayur - sayuran.
Sedangkan kelompok bahan makanan memiliki andil terbesar terhadap inflasi perdesaan di Maluku Juli 2013 sebesar 1,80 persen diikuti kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 0,41 persen, sedangkan andil terendah adalah kelompok sandang dan kelompok kesehatan masing - masing sebesar 0,01 persen.
Sahertian menambahkan, jika dirinci menurut sub sektor terjadi inflasi di daerah perdesaan di Maluku untuk semua sub sektor pada juli 2013 tertinggi pada sub sektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,68 persen, diikuti sub sektor peternakan sebesar 2,62 persen, sub sektor tanaman pangan 2,57 persen, sub sektor hortikultura 2,46 persen, dan terendah sub sektor perikanan sebesar 2,43 persen.
"Jika pada bulan Juni kelompok penambahan barang modal selalu menduduki urutan tertinggi pengeluaran petani dan ongkos produksi, maka tada bulan Juli 2013 kelompok transportasi menduduki urutan tertinggi sebesar 132,82 persen atau mengalami kenaikan tertinggi sebesar 8,14 persen yang dipicu oleh kenaikan BBM sehingga menyebabkan kenaikan tarif angkot dan ongkos ojek motor," ujarnya.
Pewarta: Shariva Alaidrus: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.