Ambon (Antara Maluku) - Bangkai pesawat yang tenggelam di pantai Desa Weraing, Pulau Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, adalah bekas Perang Dunia II tapi belum bisa diidentifikasi jenisnya, kata Ahli Kolonial dari Balai Arkeologi Ambon Andrew Huwae.

"Kami kesulitan mengidentfikasi karena barang itu ada di dalam laut. Karena belum bisa mengidentifikasi jenisnya jadi kami juga belum bisa mengidentifikasi apakah itu milik sekutu ataukah Jepang," katanya di Ambon, Selasa.

Dikatakannya, bangkai pesawat yang hanya berupa rangka besi itu berada sekitar 150 meter dari bibir pantai Desa Weraing, ekor pesawatnya bisa terlihat jelas ketika air laut mengalami surut panjang. Diduga barang peninggalan Perang Dunia (PD) II itu bisa tenggelam di laut karena tertembak.

"Sewaktu kami menelusuri peninggalan kolonial Jepang di sana, kami mendapatkan informasi dari masyarakat setempat mengenai pesawat itu yang katanya sudah ada di sana sejak Indonesia belum merdeka," katanya.

Kendati berada di dalam laut, menurut Andrew, besi dari rangka pesawat terbang tersebut diketahui telah hilang sebagian karena diambil oleh masyarakat setempat untuk dijual ke tukang besi kiloan.

"Ada masyarakat yang kami ketahui pernah menyelam untuk mengambil beberapa bagian dari rangka pesawat itu kemudian di jual sebagai besi tua," katanya.

Dia mengatakan Desa Weraing merupakan salah satu dari tujuh desa di Pulau Selaru, bagian dari pulau-pulau terluar Indonesia, dan berbatasan dengan Australia.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, tentara kolonial dari negeri matahari terbit itu pernah membangun salah satu pangkalan militernya di Selaru dan dipusatkan di Desa Lingat.

"Jepang pernah membangun pangkalan militer di Selaru, makanya banyak peninggalan mereka yang masih bisa ditemui hingga sekarang di sana," katanya.


Pewarta: Shariva Alaidrus
: John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026