"Malut masih jauh tertinggal dibandinga provinsi lainnya di Indonesia, salah satu penyebabnya adalah belum adanya industri di daerah ini,," kata salah seorang tokoh masyarakat Malut Rusli A Wali di Ternate, Senin.
Menurut dia, industri yang dihadirkan di Malut harus berskala besar, agar selain bisa menyerap banyak tenaga kerja, mengingat di daerah ini banyak pengangguran, juga bisa memberi kontribusi pendapatan bagi daerah serta dapat mendorong tumbuhnya usaha lain.
Selain itu, kata mantan Wakil Bupati Halmahera Selatan itu, industri yang dihadirkan harus berbasis potensi sumber daya alam lokal, seperti yang memanfaatkan hasil perikanan, perkebunan dan pertanian serta pertambangan.
"Ini supaya sumber daya alam lokal yang selama ini hanya dipasarkan dalam bentuk mentah bisa ditingkatkan ke bentuk olahan yang memiliki nilai tambah.
Ia mengatakan, Jokowi dan JK harus mengalokasikan anggaran melalui APBN untuk pembenahan berbagai infrastruktur penunjang investasi di daerah ini, seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan listrik.
Masalahnya infrastruktur di Malut masih sangat terbatas dan selama ini menjadi salah satu kendala bagi pemerintah daerah setempat dalam mendatangkan investor, karena mereka enggan berinvestasi dengan kondisi infrastruktur yang tidak memadai seperti itu.
"Khusus listrik, Malut memiliki potensi energi terbarukan berupa panas bumi yang jika dimanfaatkan bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk industri. Jadi musti dimanfaatkan betul," katanya.
Pewarta: La Ode Aminuddin: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026