"Itu hanya isu dikembangkan karena berdasarkan tim penelitian dari IPB maupun Balitbang Pertanian tidak terbukti sawah di Kabupaten Buru tercemar merkuri," katanya, di Ambon, Selasa.
Ia mengatakan para petani yang sebelumnya tergiur menjadi penambang emas pun saat ini kembali ke sawah.
"Jujur peranan Bupati Buru, Ramly Umasugi strategis dalam mengembalikan kesadaran petani di sana untuk mengelola kembali sawah di sana," ujarnya.
Diana mengungkapkan, pola pengembangan sawah di Kabupaten Buru yang diprogramkan Pemprov Maluku sebagai lumbung pangan masa depan menerapkan mekanisasi dengan dukungan irigasi yang optimal.
"Gubernur Maluku, Said Assagaff dan Bupati Buru, Ramly Umasugi telah menemui Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk memantapkan realisasi program mekanisasi dengan dukungan irigasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat," kata Diana.
Dia mengemukakan, penerapan pengolahan sawah secara mekanisasi itu diharapkan meningkatkan produksi padi yang saat ini 4,4 Kg gabah giling kering/hektare.
"Kami targetkan pada 2019 bisa menghasilkan 4,9 Kg gabah giling kering/hektare sehingga mendukung program swasembada pangan," ujar Diana.
Disinggung target produksi padi pada 2015, dia menjelaskan, sebanyak 158.000 Kg gabah kering giling.
"Produksinya dari sentra pulau Buru, Seram Bagian Barat (SBB), Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur (SBT) didukung padi gogo di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Barat Daya (MBD)," kata Diana Padang.
Pewarta: Alex Sariwating: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.