Ternate (ANTARA) - Kepolisian Resor (Polres) Ternate menyampaikan klarifikasi resmi terkait kondisi kesehatan seorang mahasiswa bernama Ansorudin Banapon alias Olas (22 tahun) yang sakit usai aksi unjuk rasa (uras) bersama di depan kantor DPRD Kota Ternate, Senin lalu
Kepala Seksi Humas AKP Umar Kombong di Ternate, Sabtu, menegaskan hasil pemeriksaan medis dari tim dokter Rumah Sakit Bhayangkara Ternate dan RSUD Chasan Boesorie memastikan kondisi Olas tidak disebabkan oleh tindak kekerasan fisik.
“Berdasarkan pemeriksaan medis, pasien mengalami penyakit bawaan berupa batu ginjal di sebelah kiri berukuran sekitar 4 cm. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, patah tulang, maupun cedera kepala, dada, atau perut,” kata Umar
Olas pertama kali mendapat perawatan medis pada 1 September 2025, usai mengeluh sakit pada pinggang kiri dan seluruh badan. Anggota Polres Ternate yang berada di lokasi kemudian membawanya ke RS Bhayangkara Ternate untuk pemeriksaan awal. Setelah diberi obat pereda nyeri, ia diperbolehkan pulang dengan status rawat jalan.
Namun, keesokan harinya, 2 September 2025 pagi, Olas kembali ke RS Bhayangkara dengan keluhan serupa, ditambah gejala kencing bercampur darah. Pemeriksaan rontgen menunjukkan adanya batu ginjal di bagian kiri. Meski demikian, ia masih diperbolehkan menjalani rawat jalan.
Pada sore harinya, kondisi Olas kembali memburuk. Ia mengeluhkan nyeri hebat di pinggang, lemas pada kedua kaki, serta buang air kecil berdarah. Tim medis segera merujuknya ke RSUD Chasan Boesorie Ternate untuk perawatan lanjutan.
“Pada 3 September 2025, pasien menjalani pemeriksaan lanjutan berupa USG perut, CT Scan, dan rontgen dada. Hasilnya menunjukkan adanya batu ginjal berukuran ±4 cm di sisi kiri, tanpa adanya indikasi cedera akibat kekerasan,” papar AKP Umar.
Hingga kini, Olas menjalani perawatan intensif oleh tim dokter RSUD Chasan Boesorie, antara lain dr. Rahmi (Spesialis Saraf) dan dr. Yutha (Spesialis Urologi).
Terapi yang diberikan meliputi obat anti-nyeri, vitamin saraf, dan anti-radang. Kondisi kedua kakinya dilaporkan mulai membaik, meski tindakan lanjutan untuk batu ginjal masih menunggu keputusan tim urologi.
Selain itu, pihak keluarga Olas turut membenarkan bahwa yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit ginjal sebelum aksi unjuk rasa berlangsung. Fakta ini semakin memperkuat diagnosa medis bahwa kondisi kesehatan Olas murni terkait penyakit bawaan, bukan akibat dugaan kekerasan.
Sebelumnya, Kapolres Ternate AKBP Anita Ratna Yulianto, telah menjenguk langsung Olas di rumah sakit. Ia memastikan mahasiswa tersebut mendapat pelayanan kesehatan terbaik, mengingat Olas diketahui tidak memiliki jaminan BPJS Kesehatan.
“Tim dokter RS Bhayangkara juga terus melakukan pendampingan selama proses perawatan. Kami ingin memastikan bahwa yang bersangkutan mendapat layanan maksimal,” ujar Umar Kombong.
Polres Ternate menegaskan bahwa informasi yang sempat beredar mengenai dugaan kekerasan aparat terhadap Olas adalah tidak benar. Klarifikasi ini sekaligus menutup spekulasi di publik terkait keterlibatan aparat dalam kondisi yang dialami mahasiswa tersebut.
“Dengan demikian, isu mengenai dugaan kekerasan dalam aksi unjuk rasa itu tidak terbukti. Polres Ternate berkomitmen untuk mendampingi proses pemulihan kesehatan Olas dan memastikan informasi yang beredar di masyarakat sesuai fakta medis yang telah diverifikasi,” tegas Umar Kombong.
Pewarta: Abdul FatahEditor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026