Uang itu akan diberikan melalui PBB dan LSM untuk menyediakan tempat penampungan darurat, makanan, dan barang-barang rumah tangga penting lainnya untuk lebih dari 60.000 orang yang terkena krisis tersebut, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Pertempuran pecah sekitar dua tahun lalu antara suku mayoritas Bantu dari kelompok Luba dan Pygmi dari kelompok Batwa yang menganggap bahwa mereka telah lama terpinggirkan, dieksploitasi, dan dihina.
Penyerangan terhadap permukiman dan bentrokan telah menyebabkan ratusan orang dibunuh serta penjarahan dan pembakaran desa-desa di tenggara Provinsi Katanga.
Uang tersebut juga akan dipergunakan untuk biaya sekolah, program rekonsiliasi, dan upaya untuk mendorong kedua komunitas etnis untuk hidup berdampingan secara damai.
Dari sekitar 15.000 orang yang melarikan diri dalam pembantaian April lalu sekitar 80 persen telah kembali ke rumah, namun melakukannya dalam "konteks kerentanan ekstrim" karena rumah mereka telah dibakar dan stok pangan mereka hancur atau dijarah, kata PBB pekan lalu.
Uang itu diambil dari dana yang dikelola oleh OCHA dan dibiayai oleh keduataan-kedutaan asing, termasuk dari Prancis.
Penggalangan dana akan terus berlanjut dengan tujuan mencapai 5 juta dolar AS atau 4.5 juta euro.
Etnis Pygmi adalah masyarakat pemburu atau pengumpul dengan pengetahuan mendalam tentang alam yang telah hidup selama beberapa generasi terutama di semak-semak dan hutan tropis di Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Republik Afrika Tengah, Kamerun, dan Gabon.
Di Republik Demokratik Kongo, gaya hidup masyarakatnya yang telah berjalan seribu tahun terancam oleh deforestasi dan penyebaran masyarakat petani Bantu serta adanya pertambangan sumber daya mineral yang luas di negara itu.
Sejak 2013 bentrokan antara dua komunitas di Utara Katanga telah menyebar dan misi PBB di Republik Demokratik Kongo, MONUSCO telah melaporkan puluhan ribu warga mengungsi dan puluhan desa telah dihancurkan.
Pewarta: Ben (*): John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.