Ambon (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Banda Neira  memberdayakan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui produksi sirup pala sebagai langkah mendorong lahirnya produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bernilai ekonomi.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Banda Neira Rustam Kasoor dihubungi dari  Ambon Jumat, menjelaskan  program ini terinspirasi dari potensi buah pala yang melimpah di Banda Neira namun belum dimanfaatkan secara optimal.

‎“Kami ingin Warga Binaan dapat menghasilkan produk berkualitas yang aman dan layak dikonsumsi dengan memanfaatkan potensi daerah yang ada,” ujar Rustam.

Sementara itu, Kepala Lapas Banda Neira, Mikha mengatakan kegiatan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan mental kewirausahaan bagi para Warga Binaan.

‎“Produk-produk yang dihasilkan akan disebarluaskan ke pasar UMKM. Dengan keterampilan ini, Warga Binaan nantinya bisa mandiri, produktif, dan menjadi bagian dari penggerak ekonomi kerakyatan,” katanya.

Ia menjelaskan  sirup pala merupakan olahan khas Maluku dengan cita rasa dan aroma rempah yang khas.

 

Proses pembuatannya meliputi pengambilan sari buah pala, kemudian dimasak bersama gula, air, dan asam sitrat hingga mengental. Setelah disaring dan dikemas, sirup siap dikonsumsi dengan air dingin atau soda.

Usaha ini bernilai ekonomi tinggi karena modal produksi sekitar Rp140.000 untuk 10 botol dapat menghasilkan keuntungan besar, dengan harga jual Rp25.000–Rp30.000 per botol.

Dengan kemasan menarik dan izin usaha resmi, sirup pala Banda Neira berpotensi menjadi produk unggulan dan oleh-oleh khas Maluku yang mendukung pemberdayaan ekonomi lokal.

Ia melanjutkan, program pemberdayaan ini menargetkan agar produksi sirup pala berkembang menjadi unit usaha produktif, sehingga hasil karya Warga Binaan dapat bersaing di pasar lokal maupun nasional.

Langkah ini juga memperkuat citra Lapas Banda Neira sebagai pusat pembinaan kemandirian yang berdaya saing.

Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, mengapresiasi inisiatif tersebut dan menilai bahwa kegiatan semacam ini merupakan wujud nyata pembinaan yang berdampak ekonomi.

‎“Upaya ini menunjukkan bahwa pembinaan di Lapas tidak hanya membentuk keterampilan, tetapi juga menyiapkan Warga Binaan untuk berkontribusi positif secara ekonomi ketika kembali ke masyarakat. Kami mendorong agar program ini terus berkembang dan memberi dampak bagi UMKM lokal,” ujarnya.

Melalui program inovatif ini, Lapas Banda Neira optimistis Warga Binaan tidak hanya siap kembali ke masyarakat, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha yang memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Ikhwan Wahyudi

COPYRIGHT © ANTARA 2026