"Gerakan teroris di Maluku Utara belum signifikan, kendati dekat dengan Mindanau, Poso dan Ambon. Kondisi ini karena masyarakat Maluku Utara mempunyai sikap yang tinggi memelihara stabilitas keamanan," katanya di Ternate, Sabtu.
Pernyataan Kabinda Maluku Utara itu juga menepis siaga satu keamanan Indonesia pascapemboman Sarinah di Jakarta, pada 14 Januari 2016 yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris.
Apalagi, warga Maluku Utara saat ini sedang mempersiapkan diri menghadapi Gerhana Matahari Total (GMT).
Diprakirakan wisatawan asing sebanyak 3.000 orang ditambah wisatawan nusantara/ lokal sehingga harus dilakukan pengamanan ekstra ketat.
"Jadi stabilitas keamanan di Maluku Utara harus terpelihara kondusif," ujar Eden.
Dia mengisyaratkan, komite intelijen di Maluku Utara memjadwalkan dalam waktu dekat perlu mengkoordinasikan pengamanan kegiatan GMT.
"Komite intelijen yang terdiri BIN, Korem, Polisi, Bea cukai dan Imigrasi untuk membicarakan kemanan jelang GMT," kata Eden.
Eden mengakui, ada sebagian WNA yang membatalkan kedatangannya ke Maluku Utara paska insiden Thamrin.
Dia merujuk rombongan kedutaan besar Amerika yang akan ke Pulau Morotai akhirnya dibatalkan.
"Kami harus meyakinkan siapa pun agar jangan ragu maupun membatalkan kunjungan keMaluku Utara karena stabilitas keamanan terjamin," tandasnya.
Dia mengemukakan, intensif juga mengawasi pergerakan kelompok radikal yang kemungkinan masuk ke maluku Utara.
"ISIS maupun Gafatar tetap dipantau sehingga tidak memanfaatkan karakteristik wilayah Maluku Utara berupa kepulauan untuk masuk, baik melalui Bandara maupun pelabuhan kecil yang pengoperasiannya tidak resmi," tegas Eden.
Pewarta: Abdul Fatah: John Nikita S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.