Ambon (ANTARA) - Anggota Komisi III DPR RI asal Maluku, Mercy Chriesty Barends, mengecam keras insiden ledakan dan tenggelamnya kapal tugboat Musaffah 2 di Selat Hormuz yang menyebabkan tiga warga negara Indonesia (WNI) hingga kini masih dinyatakan hilang.

yang sebabkan tiga WNI hilang

Mercy dalam keterangannya di Ambon, Minggu, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut serta menegaskan bahwa serangan terhadap kapal sipil di jalur pelayaran internasional tidak dapat dibenarkan.

“Saya mengutuk keras setiap tindakan kekerasan terhadap kapal sipil di Selat Hormuz yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan mengancam keselamatan para pelaut, termasuk tiga WNI yang hingga kini masih hilang. Serangan terhadap kapal sipil merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip kemanusiaan dan hukum laut internasional,” kata dia.

Ia mengatakan, berdasarkan laporan Kementerian Luar Negeri RI, kapal berbendera Uni Emirat Arab tersebut mengalami ledakan dan kebakaran sebelum akhirnya tenggelam di perairan antara Uni Emirat Arab dan Oman pada 6 Maret 2026.

Dari empat awak kapal WNI yang bekerja di kapal tersebut, satu orang berhasil selamat namun mengalami luka bakar dan saat ini masih menjalani perawatan, sementara tiga WNI lainnya masih dalam proses pencarian oleh otoritas setempat.

Menurut dia, insiden tersebut tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia, khususnya terkait konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berpotensi meningkatkan risiko keamanan di jalur pelayaran internasional.

Ia menegaskan bahwa konflik geopolitik tidak boleh menjadikan pekerja sipil di laut sebagai korban.

“Para pelaut adalah pekerja sipil yang dilindungi oleh hukum internasional. Keselamatan mereka adalah bagian dari perlindungan hak asasi manusia. Tidak boleh ada pihak mana pun yang menjadikan jalur pelayaran internasional sebagai arena konflik yang mengorbankan pekerja maritim,” ujarnya.

Oleh sebab itu dirinya mendesak pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di kawasan tersebut untuk segera menghentikan segala bentuk serangan di Selat Hormuz dan memastikan keamanan jalur pelayaran internasional tetap terjaga.

Ia mengingatkan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan global yang melayani sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sehingga stabilitas keamanan di kawasan tersebut menjadi kepentingan bersama masyarakat internasional.

“Jaminan keselamatan di Selat Hormuz bukan hanya untuk warga negara Indonesia, tetapi untuk setiap pelaut dan pekerja maritim dari seluruh dunia yang bekerja di jalur perdagangan global,” katanya.

Ia juga meminta Pemerintah Indonesia terus melakukan koordinasi diplomatik dengan otoritas setempat guna memastikan proses pencarian terhadap tiga WNI yang hilang dilakukan secara maksimal serta menjamin perlindungan bagi seluruh pekerja migran Indonesia di sektor maritim, terutama yang bekerja di kawasan konflik di Timur Tengah.



Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026