Ambon (ANTARA) - Pagi itu, suara mesin jahit bersahutan memenuhi salah satu ruang pelatihan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ambon. Deretan peserta tampak serius menatap pola kain di hadapan mereka, sementara tangan-tangan terampil mulai menggerakkan mesin jahit dengan ritme yang nyaris serempak.

Di sudut ruangan, seorang perempuan muda tampak fokus merapikan jahitan seragam kerja berwarna coklat. Sesekali ia berhenti sejenak memastikan garis pola tetap lurus sebelum kembali menginjak pedal mesin jahit. Senyum kecil muncul ketika instruktur yang mendampinginya memberi pujian atas hasil jahitan yang mulai rapi.

Bagi Intan Arifin (23), ruang pelatihan itu bukan sekadar tempat belajar menjahit, melainkan titik awal untuk mengubah arah hidup setelah bertahun-tahun kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Anak pertama dari tiga bersaudara tersebut sempat menghabiskan hampir dua tahun sebagai pengangguran setelah lulus sekolah menengah atas. Orang tuanya bekerja sebagai pedagang tradisional untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kini, setiap pagi Intan datang lebih awal ke BPVP Ambon. Ia belajar membuat pola, mengukur bahan, hingga menjahit pakaian kerja dengan standar industri. Baginya, keterampilan itu menjadi harapan baru agar suatu hari nanti bisa bekerja di usaha konveksi atau membuka jasa jahit sendiri di kampung halamannya.

Kisah pemudi asal Desa Batu Merah Ambon itu menjadi potret kecil dari tantangan sekaligus harapan pembangunan ketenagakerjaan di Provinsi Maluku. Di tengah angka pengangguran yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah, peningkatan kualitas sumber daya manusia dinilai menjadi kunci agar tenaga kerja lokal mampu bersaing di dunia kerja yang terus berubah.

Tantangan ketenagakerjaan daerah kepulauan

Provinsi Maluku menghadapi tantangan khas dalam pembangunan ketenagakerjaan. Sebagai wilayah kepulauan dengan sebaran penduduk di banyak pulau, akses pendidikan dan pelatihan kerja belum sepenuhnya merata.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di daerah itu pada Februari 2026 turun menjadi 5,80 persen. Penurunan tersebut menjadi sinyal positif membaiknya penyerapan tenaga kerja di tengah upaya pemerintah memperkuat kualitas sumber daya manusia dan memperluas kesempatan kerja di wilayah kepulauan itu.

Di sisi lain, kebutuhan dunia kerja mengalami perubahan cepat. Sektor industri fesyen, perikanan, pariwisata, konstruksi, jasa, ekonomi kreatif, hingga digital mulai membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi yang lebih spesifik.

Masalahnya, tidak semua pencari kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri tersebut.

Banyak lulusan sekolah menengah maupun perguruan tinggi masih kesulitan memperoleh pekerjaan karena minim pengalaman kerja dan keterampilan teknis. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah, terutama dalam menghadapi bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya dalam beberapa tahun mendatang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Maluku M Rizal Latuconsina mengatakan peningkatan kualitas angkatan kerja menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah untuk menekan angka pengangguran sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal.

“Kami tidak hanya fokus menurunkan angka pengangguran, tetapi juga bagaimana menciptakan tenaga kerja yang kompeten, produktif, dan mampu menjawab kebutuhan dunia usaha maupun industri,” katanya.

Menurut dia, pemerintah daerah terus memperkuat program pelatihan vokasi berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja di Maluku.

Beberapa sektor yang menjadi prioritas antara lain konveksi, perikanan, pengolahan hasil laut, pariwisata, teknologi informasi, otomotif, konstruksi, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Selain itu, Disnakertrans Maluku juga memperkuat program sertifikasi kompetensi agar tenaga kerja memiliki pengakuan resmi atas kemampuan yang dimiliki.

Sertifikasi dinilai penting karena banyak perusahaan kini mensyaratkan standar kompetensi tertentu dalam proses perekrutan tenaga kerja.

Selain pelatihan dan sertifikasi, pemerintah juga memperkuat program penempatan tenaga kerja melalui bursa kerja, kerja sama dengan perusahaan, hingga pengembangan kewirausahaan bagi generasi muda.

“Kami ingin anak-anak muda Maluku tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” katanya.

Kebutuhan industri

Upaya peningkatan kualitas tenaga kerja juga dilakukan melalui BPVP Ambon yang menjadi salah satu pusat pelatihan vokasi di Maluku.

Kepala BPVP Ambon Yustianto mengatakan minat masyarakat terhadap pelatihan kerja terus meningkat setiap tahun, terutama dari kalangan usia muda yang ingin memiliki keterampilan praktis untuk bekerja maupun membuka usaha.

“Pelatihan yang paling banyak diminati antara lain menjahit, tata boga, otomotif, pengelasan, desain grafis, komputer, dan teknologi digital,” katanya.

Sepanjang tahun terakhir, BPVP Ambon telah melatih ribuan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Maluku melalui pelatihan berbasis kompetensi. Sebagian peserta berasal dari keluarga kurang mampu dan sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap.

Menurut dia, tingkat penyerapan kerja alumni pelatihan cukup baik. Sebagian bekerja di perusahaan, sementara lainnya memilih membuka usaha mandiri sesuai keterampilan yang diperoleh.

BPVP Ambon juga mulai memperkuat pelatihan berbasis ekonomi digital seperti desain multimedia, pemasaran digital, hingga pengelolaan usaha berbasis daring.

Langkah tersebut dinilai penting karena perkembangan teknologi telah mengubah pola kerja dan membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.

Meski demikian, tantangan terbesar tetap berada pada kondisi geografis Maluku sebagai daerah kepulauan. Peserta dari wilayah terluar sering menghadapi keterbatasan transportasi dan biaya untuk mengikuti pelatihan di Ambon.

Selain pelatihan teknis, BPVP Ambon juga memberikan pembinaan karakter kerja, disiplin, dan kesiapan menghadapi dunia industri.

Menurut pihak BPVP, keterampilan teknis saja tidak cukup jika tenaga kerja tidak memiliki etos kerja dan kemampuan beradaptasi.

Menyalakan harapan baru

Menjelang sore, Intan masih bertahan di ruang pelatihan BPVP Ambon. Ia tampak serius menyelesaikan jahitan terakhir sebelum instruktur menutup kelas hari itu.

Bagi Intan, pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan belajar biasa. Ia melihatnya sebagai jalan keluar dari ketidakpastian yang selama ini dihadapi keluarganya.

Kini ia mulai menabung sedikit demi sedikit untuk membeli mesin jahit sendiri. Ia juga bermimpi suatu hari nanti dapat membuka tempat kursus kecil bagi perempuan muda di kampungnya.

“Saya mau punya usaha sendiri supaya tidak lagi bergantung cari kerja ke sana-sini,” katanya.

Harapan Intan sejalan dengan cita-cita pemerintah daerah dalam membangun tenaga kerja Maluku yang kompetitif dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Di tengah tantangan geografis, keterbatasan akses, dan ketatnya persaingan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting bagi masa depan Maluku.

Sebab di daerah kepulauan yang kaya potensi ini, pembangunan tidak hanya soal infrastruktur dan investasi, tetapi juga tentang bagaimana memberi kesempatan kepada generasi mudanya untuk tumbuh, bekerja, dan bermimpi lebih jauh.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menjahit harapan tenaga kerja berkualitas di negeri seribu pulau

Editor : Luqman Hakim

COPYRIGHT © ANTARA 2026