Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak generasi muda berpikir kritis dan aktif berpartisipasi dalam demokrasi agar tidak menyerahkan proses berpikir kepada akal imitasi (AI) maupun algoritma media sosial.
Ia mengingatkan algoritma media sosial dapat membentuk pola informasi yang diterima pengguna berdasarkan perilaku mereka, seperti konten yang ditonton, disukai, dibagikan atau dilewati.
"Kadang-kadang kita merasa sedang memilih konten. Padahal algoritma juga sedang memilih apa yang akan kita lihat," kata Ibas dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ibas menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan "AI, TikTok, dan Politik: Siapa yang Menentukan Masa Depan Indonesia?" di Jakarta, Kamis (3/9).
Menurut dia, pengaruh algoritma menjadi lebih penting diperhatikan ketika masuk ke ranah politik karena dapat memengaruhi informasi masyarakat mengenai pemerintah, kebijakan publik, calon pemimpin, dan berbagai isu sosial.
Oleh karena itu, Ibas meminta anak muda tidak menyamakan popularitas sebuah konten dengan kebenaran informasi.
"Viral bukan berarti benar. Informasi bisa dibagikan jutaan kali, tetapi tetap bisa salah," ujar dia.
Ia menilai demokrasi digital membutuhkan kebebasan berbicara sekaligus kebebasan berpikir agar masyarakat terbiasa memeriksa data dan mempertimbangkan berbagai perspektif.
"Demokrasi membutuhkan kebebasan berbicara, tetapi di era digital, kita juga harus punya kebebasan untuk berpikir, memeriksa data, mendengar berbagai perspektif, dan berani mengatakan bahwa mungkin kita salah," ujar dia.
Ibas juga mendorong politisi memanfaatkan media sosial, termasuk TikTok, untuk menyampaikan gagasan kepada masyarakat, tetapi tidak menjadikan jumlah tayangan dan pengikut sebagai ukuran utama keberhasilan politik.
"Politisi boleh menjadi kreator, tetapi politik bukan tentang siapa yang paling viral. Politik adalah tentang siapa yang mampu menawarkan solusi dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat," kata dia.
Ia menyampaikan banyaknya tayangan maupun pengikut tidak otomatis menunjukkan kualitas kepemimpinan dan kepercayaan publik.
"Belum tentu views sama dengan leadership. Belum tentu followers sama dengan trust. Konten juga tidak sama dengan kebijakan," ujar dia.
Ibas juga mengajak anak muda tidak hanya menjadi penonton dalam demokrasi. Menurut dia, kepedulian terhadap pendidikan, lapangan pekerjaan, harga kebutuhan pokok, lingkungan, dan keadilan sosial merupakan bentuk partisipasi politik.
"Jangan hanya menjadi penonton demokrasi. Gunakan kanal-kanal demokrasi yang tersedia untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi," kata dia.
Ia merangkum pesannya dalam tiga hal, yakni Think Deep, Participate, dan Lead, sebagai ajakan agar generasi muda berpikir kritis, aktif berpartisipasi, dan berani mengambil peran kepemimpinan.
"Ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan kepada AI, tidak boleh kita serahkan kepada algoritma, yaitu masa depan Indonesia. Indonesia adalah milik kita dan milik generasi yang akan datang," kata Ibas.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ibas ajak anak muda kritis hadapi pengaruh AI dan algoritma
Pewarta: Devi Nindy Sari RamadhanUploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.