Ternate, 2/9 (Antaranews Maluku) - Para peternak sapi di Maluku Utara (Malut) meminta pemerintah setempat tidak membatasi pengiriman sapi potong keluar daerah agar peternak leluasa menjual sapinya dengan harga yang layak.

"Kalau pengiriman sapi potong keluar daerah dibatasi akan menyulitkan peternak yang ingin menjual sapinya, karena pengusaha sapi potong dari luar daerah tidak lagi bebas datang membeli sapi potong di Malut," kata salah seorang peternak sapi asal Halmahera Utara, Hasan di Ternate, Minggu.

Permintaan itu disampaikan menyusul adanya desakan dari Asosiasi Pengusaha Sapi Potong kepada Pemprov Malut untuk membatasi pengiriman sapi potong keluar daerah dengan alasan untuk menjaga ketersediaan stok dan stabilitas harga daging sapi di daerah ini.

Menurut dia, sejak pengusaha sapi potong dari luar Malut, dari Sulawesi dan Kalimantan leluasa datang membeli langsung sapi di Malut, para peternak tidak kesulitan menjual sapi dan harganya pun sangat menguntungkan peternak.

Para pengusaha sapi potong dari luar Malut bersedia membeli sapi yang dijual peternak seharga Rp12 juta per ekor, sedangkan para pengusaha sapi potong setempat paling mahal membeli seharga Rp10 juta per ekor.

Kepala Dinas Pertanian Malut, Idham Umasangadji mengaku bahwa pihaknya tidak akan melarangan pengiriman sapi potong keluar Malut, karena populasi sapi potong di daerah ini cukup banyak dan melebihi kebutuhan konsumsi lokal.

Populasi sapi potong di Malut saat ini tercatat lebih dari 60 ribu ekor dan setiap tahunnya tersedia stok sapi potong untuk produksi sedikitnya 10 ribu ekor, sekitar 5 ribu ekor di antaranya untuk kebutuhan lokal dan selebihinya diarahkan untuk keluar daerah.

"Tetapi khusus pada momentum hari besar keagamaan, seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha pengiriman sapi potong memang dibatasi untuk menjamin ketersediaan stok baik untuk kebutuhan hewan kurban maupun daging sapi di daerah ini," katanya.

Pewarta: La Ode Aminuddin
Editor : John Nikita S

COPYRIGHT © ANTARA 2026