Wabah Penyakit Rabies yang menyerang masyarakat akibat gigitan anjing gila di kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Provinsi Maluku, hingga menyebabkan 19 orang meninggal dunia mulai tertangani.
Kepala Dinas Pertanian Maluku, Ruddy Latuheru, di Ambon, Senin, membenarkan wabah penyakit rabies itu telah bisa diatasi dan tidak ada lagi laporan warga yang digigit anjing.
"Saat ini tidak ada lagi laporan warga digigit anjing yang terinveksi virus rabies, sebagian besar anjing yang terkena virus mematikan itu pun telah dieliminasi (dimusnahkan)," kata Latuheru.
Dia mengakui, dalam waktu dekat ini kementrian Pertanian (Kementan) akan mengirimkan tim khusus ke Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) guna memantau dan membantu mempercepat penanganan kasus wabah penyakit yang menyerang warga di daerah itu sejak Juli lalu.
"Saya bersama Kepala Bidang Peternakan, Jasmin Badjak akan mendampingi tim khusus Kementan yang akan turun ke MTB dalam waktu dekat ini," ujarnya.
Menurutnya, kasus gigitan anjing pertama kali terjadi di Desa Larat, Kecamatan Tanimbar Utara dan meluas dengan cepat di mana mengakibatkan 19 orang meninggal dunia dan 357 warga terkena gigitan.
Namun, kasusnya terlambat dilaporkan dan baru diketahui Dinas Pertanian Maluku pada 27 Juli lalu, dan langsung dikoordinasikan dengan Kementrian Pertanian.
Kementran selanjutnya menurunkan tim beranggotakan 10 orang dari Balai Besar Veteriner Maros, Makassar, Sulawesi Selatan, Laboratorium Tipe B Peternakan Maluku, Dinas Pertanian Maluku, Tim Zoonosis Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan dan staf karantina hewan Maluku sejak 5 Agustus lalu.
Meluasnya wabah penyakit ini juga disebabkan kebiasaan warga setempat yang masih memercayai mistik serta tidak merasa yakin bahwa kebanyakan korban tewas akibat terserang virus rabies.
"Masyarakat MTB juga memelihara anjing sebagai mata pencariannya, sehingga lebih sayang hewan tersebut dan tidak bersedia memberikan binatang peliharaannya untuk dimusnahkan," katanya.
Latuheru menambahkan Menteri Pertanian Suswono juga telah menginstruksikan penanganannya secara serius dengan melibatkan semua instansi teknis hingga tuntas.
Dia berharap warga MTB dengan rela menyerahkan anjing maupun kucing dan kera yang terindikasi terserang virus rabies untuk dieliminasi (dimusnahkan) sehingga memutuskan mata rantai penyebaran penyakit tersebut.
Sedikitnya 4.000 dosis vaksin telah dikirim Dinas Pertanian Maluku ke MTB, di samping ribuan vaksin lainnya dari Dinas Kesehatan Maluku, sehingga diharapkan mencukupi untuk menangani wabah penyakit tersebut.
Wabah rabies yang terjadi di MTB sejak sebulan lalu itu, telah dikategorikan kejadian luar biasa (KLB) dengan jumlah warga Larat yang digigit dan menjalani perawatan Dinas Kesehatan setempat sebanyak 357 orang, di mana 19 diantaranya meninggal dunia.
Kasus gigitan anjing pertama kali terjadi di Desa Larat, Kecamatan Tanimbar Utara dan berawal dari seorang wanita tua membawa anjing jenis Peking dari Kota Ambon, ibu kota provinsi Maluku, Desember 2009.
Anjing Peking ini kemudian menularkan virus kepada anjing lainnya melalui gigitan dan akhirnya menyebar pada manusia dan menimbulkan korban jiwa.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.