Deputi Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Sarana dan Prasarana, Dedy Supriadi Priatna, menegaskan, forum bersama Kawasan Timur Indonesia sangat strategis untuk mendorong dan menggenjot percepatan pembangunan di 12 provinsi di wilayah tersebut.
"Forum ini sangat strategis untuk mengupayakan pembangunan kemitraan berbagai pemangku kepentingan guna mempercepat pembangunan di Kawasan Timur Indonesia," katanya pada pembukaan Forum KTI ke-V yang berlangsung di Ambon, Senin.
Menurut Dedy Supriadi, forum tersebut harus dioptimalkan sebagai wadah bertukar pikiran dan pembelajaran guna mengembangkan gagasan dan inovasi dalam mempercepat laju pembangunan di KTI berbasis ilmu pengetahuan dan kerja sama antarberbagai pihak berkompeten.
Dia menilai tema praktik cerdas yang dikedepankan dalam Forum KTI V akan mendorong pembangunan yang terintegrasi serta memperkuat kerja sama antar pemerintah di tingkat wilayah Indonesia Timur.
Dia berharap forum tersebut dapat membahas secara mendalam tiga isu penting, yakni arah pembangunan nasional dan kebijakan nasional percepatan pembangunan KTI, keterkaitan regional, domestik koneksitas, dan peningkatan daya saing.
"Ini isu mendasar yang harus dibahas dan dibicarakan untuk mendorong pembangunan KTI di masa mendatang, mengingat hingga saat ini masih terjadi kesenjangan antarwilayah klarena tidak meratanya ekonomi masyarakat secara umum," ujarnya.
Dedy Supriadi juga menyatakan, pola dan interaksi perdagangan di KTI masih lemah dan cenderung terikat antarwilayah di KTI dengan daerah di Pulau Jawa, di samping tingkat indikator kesejahteraan yang menunjukkan kesenjangan.
"Tingkat kemiskinan di wilayah KTI relatif masih tinggi. Populasi penduduk miskin lebih tinggi di atas rata-rata nasional dan indeks pembangunan manusia (IPM) di sejumlah provinsi di wilayah KTI pun lebih rendah dari rata-rata nasional. Selain itu, ketersediaan infrastruktur wilayah pun sangat terbatas," katanya.
Sehubungan dengan itu, dia berharap Forum KTI dapat dijadikan landasan pijak untuk memberikan kontribusi besar guna mengejar ketertinggalan dan kesenjangan, sekaligus menggerakkan investasi di semua provinsi di KTI yang hingga kini masih berada dibawah satu persen.
"Staretegi nasional"
Terkait upaya mengatasi kesenjangan antarwilayah, menurut Dedy Supriadi, strategi nasional dalam Rancangan pembangunan jangka panjang menengah nasional (RPJPMN) 2010-1015 telah mengamanatkan lima langkah strategis yakni mendorong pertumbuhan wilayah-wilayah potensial di KTI dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan di Jawa, Bali dan Sumatera.
Selain itu, meningkatkan keterkaitan antarwilayah melalui aktivitas perdagangan antarpulau untuk memperkuat perekonomian domestik, meningkatkan daya saing sektor unggulan daerah, mendorong percepatan pembangunan daerah tertinggal kawasan strategis dan cepat tumbuh serta bebas daerah rawan bencana dan mendorong pengembangan pembagunan wilayah laut dan sektor kelautan.
"Khususnya untuk langkah ke-lima yang diamanatkan dalam RPJPMN 2010-1015, lebih mempertimbangkan geografis wilayah KTI yang didominasi perairan kepulauan," katanya.
Pembangunan wilayah KTI perlu difokuskan pada pembangunan yang berbasis laut dan kepulauan, mengingat sumbangan sektor kelautan saat ini baru berkisar tiga persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional, sehingga ke depan pengembangan wilayah akan dilakukan dengan mengitegrasikan wilayah darat, laut yang dipandang sebagai perekat integrasi perekonomian antarwilayah dan mendukung pengembangan potensi wilayah.
Dia mengakui, provinsi di KTI telah berperan strategis dalam perkembangan perekonomian nasional, baik sebagai penyedia bahan mentah untuk industri manufaktur, maupun ekspor komoditi unggulan.
"Saat ini KTI memiliki peluang besar untuk luas untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah dari produk-produk unggulan terutama perikanan dan kelautan. Wilayah KTI memiliki krakteristik potensi SDA yang melimpah diantaranya kehutanan dan pertanian di Kalimantan, Papua dan Sulawesi, serta perikanan dan kelautan di maluku, Maluku Utara serta Nusa Tenggara," tandasnya.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.