Jakarta (ANTARA) - Di jalur percabangan menuju Malang dan Banyuwangi, Stasiun Bangil berkembang sebagai simpul penting mobilitas masyarakat di wilayah timur Jawa. Aktivitas di stasiun ini merefleksikan dinamika kawasan Pasuruan yang bertumpu pada pendidikan, perdagangan, industri rumahan, hingga perjalanan religi yang berlangsung sepanjang tahun.
Arus perjalanan di Stasiun Bangil banyak ditopang oleh mobilitas santri, pekerja komuter, pelaku usaha lokal, hingga masyarakat yang melakukan perjalanan wisata religi ke berbagai wilayah di Jawa Timur. Posisi Bangil sebagai ibu kota Kabupaten Pasuruan turut memperkuat fungsi stasiun ini sebagai penghubung utama antarwilayah di kawasan tapal kuda dan sekitarnya.
Sepanjang Januari–April 2026, Stasiun Bangil melayani 38.482 pelanggan berangkat dan 36.965 pelanggan tiba. Jumlah tersebut meningkat dibanding periode yang sama tahun 2025 yang mencatat 36.484 pelanggan naik dan 35.314 pelanggan turun. Secara tahunan, volume pelanggan naik tumbuh 5,48 persen, sementara pelanggan turun meningkat 4,67 persen.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa karakteristik Stasiun Bangil sangat dipengaruhi oleh tingginya aktivitas pendidikan berbasis pesantren dan mobilitas masyarakat antarkota di wilayah Pasuruan.
“Bangil memiliki karakter mobilitas yang khas karena ditopang aktivitas pendidikan keagamaan, perjalanan keluarga, hingga mobilitas pekerja harian. Kehadiran kereta api menjadi bagian penting dalam menjaga keterhubungan masyarakat dengan pusat pendidikan, ekonomi, dan kawasan permukiman di Jawa Timur,” ujar Anne.
Kabupaten Pasuruan dikenal memiliki ratusan lembaga pendidikan pesantren dengan puluhan ribu santri yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Kondisi tersebut menjadikan Stasiun Bangil sebagai salah satu titik kedatangan dan keberangkatan utama, terutama pada periode libur pendidikan, pergantian semester, hingga momentum hari besar keagamaan.
Sebagai stasiun yang berada di ujung timur wilayah Daerah Operasi 8 Surabaya, Bangil menjadi titik henti strategis bagi perjalanan kereta api lintas utara, selatan, maupun timur Jawa. Pelanggan memiliki pilihan perjalanan yang cukup beragam, mulai dari layanan Kereta Api Jarak Jauh seperti KA Pandalungan relasi Gambir–Jember dan KA Wijayakusuma relasi Cilacap–Ketapang, hingga layanan lokal yang menopang mobilitas harian masyarakat.
Layanan KA Dhoho dan Penataran menjadi moda favorit masyarakat dari dan menuju Surabaya, Malang, Blitar, hingga Kertosono dengan tarif yang terjangkau. Sementara itu, KA Supas relasi Surabaya–Probolinggo juga berperan penting dalam mendukung perjalanan harian masyarakat kawasan pesisir timur Jawa.
Aktivitas perjalanan di Stasiun Bangil turut memberi pengaruh terhadap pergerakan ekonomi lokal. Kawasan Bangil dikenal sebagai sentra bordir terbesar di Jawa Timur melalui identitas “Bangil Kota Bordir” atau Bangkodir. Selain itu, daerah ini juga menjadi salah satu penghasil bunga sedap malam terbesar di Jawa Timur dengan produksi mencapai lebih dari 20 juta tangkai pada 2025. Tingginya mobilitas masyarakat ikut menghidupkan aktivitas perdagangan, kuliner, hingga usaha kecil di sekitar stasiun, termasuk kuliner khas Nasi Punel yang menjadi bagian dari identitas lokal Bangil.
“KAI terus menjaga konektivitas di Stasiun Bangil agar mobilitas masyarakat berlangsung aman, nyaman, dan tepat waktu. Perjalanan kereta api di kawasan ini ikut menjaga ritme pendidikan, aktivitas ekonomi, serta hubungan sosial masyarakat antardaerah,” tutup Anne.
Pewarta : PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2026