Petinju putri Welmy Pariama bakal menjadi andalan kontingen Maluku pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua untuk mendulang medali demi mengharumkan nama daerah kelahirannya itu.

Petinju perempuan kelahiran 25 Maret 1991 ini siap "baku pukul" habis-habisan di kelas welter ringan 64kg untuk meraih medali emas pada ajang olahraga empat tahunan tersebut. Bungsu dari tiga bersaudara pasangan Matias Pariama dan Melsina Kainama ini, sudah berkonsentrasi penuh untuk tampil gemilang dan meraih sukses di atas ring tinju di bumi Cendrawasih 5-13 Oktober 2021.

Welmy yang akrab disapa Emy ini menyadari beratnya beban yang dipikulnya bersama dengan tiga petinju putra untuk mempersembahkan medali bagi provinsi Maluku di ajang empat tahunan itu. Sebagai satu-satunya petinju perempuan yang lolos mewakili Maluku, Emy juga diharapkan mampu mempersembahkan medali emas bagi kontingen "Seribu Pulau" sekaligus mempertahankan tradisi emas cabang olahraga adu jotos itu.

Cabang tinju memang menjadi unggulan dan andalan utama Maluku untuk menghasilkan pundi-pundi emas, selain atletik dan dayung. Maluku hanya meloloskan empat petinju, tiga putra dan satu putri untuk berlaga di PON Papua. jumlah yang tergolong minim sepanjang keikutsertaan Maluku di pesta olahraga terbesar Tanah Air itu.

"Selain Koni, beta (saya) juga target meraih emas. Baku pukul di atas ring sudah jadi makanan hari-hari, hanya tinggal siapa yang kuat dan lincah, memenangkan pertarungan," ujar Welmy dalam perbincangan dengan ANTARA beberapa hari sebelum keberangkatannya menuju Papua pada 27 September 2021.

Baca juga: Petinju Maluku matangkan persiapan jelang PON Papua, bagaimana tradisi emas

Menolak bertinju

Nona kelahiran Negeri Kamarian, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) ini, semula menganggap tinju lebih cocok bagi laki-laki hebat dan bukan wadah tepat bagi seorang perempuan feminin. Karena itu pada 16 tahun silam, dia menolak saat diajak teman-temannya untuk berlatih tinju di Sasana Benteng Amalohi, di desanya Kamarian.

Saat itu Emy baru duduk di kelas I SMA di Negeri Kamarian. "Beberapa teman sekolah datang ke rumah usai latihan tinju di sasana Lohiatala. Mereka ajak beta bergabung, tetapi beta tolak karena merasa tinju bukan sarana menyalurkan hobi bagi seorang perempuan seperti beta," katanya.

Lama-lama ia mulai tertarik untuk menyaksikan teman-temannya berlatih memukul samsak, tetapi ia belum memiliki niat dan tekad yang cukup untuk menggeluti olahraga "baku pukul" itu.
Petinju putri Welmy Pariama berlatih bersama pelatih Teko Lewaherilla di sasana Pertina Maluku di Kota Ambon, Jumat (24/9). Pertina Maluku optimis meraih dua medali emas di PON XX Papua, meski hanya mengirim empat petinju dan jumlahnya turun jauh dibandingkan PON XIX yang mencapai 12 petinju. (ANTARA/Jimmy Ayal)


Apalagi dia merupakan anak bungsu dan perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, dan dua saudara laki-lakinya tidak menggeluti olahraga tinju. Akan tetapi karena didorong berbagai pihak, Welmy pun ikut berlatih, namun hanya seminggu dan kemudian berhenti.

Kedatangan mantan juara Asia tinju Wiem Gomies ke desanya untuk mencari petinju perempuan, barulah membuat Welmy yang masih duduk di SMA kelas 1, bersedia berlatih tinju lagi. Ia bahkan pindah ke Ambon untuk melanjutkan sekolah dan berlatih tinju. Welmy naik ring untuk pertama kali dalam Kejurnas Tinju di Sport Hall Karangpanjang tahun 2007.

Walau hanya partai eksebisi, Welmy tampil penuh. Pukulan-pukulannya sudah berisi. Lawannya dipukul sampai berdarah. Penonton terkesima. Berbagai kalangan sangat yakin, Welmy akan tumbuh sebagai petinju masa depan Maluku. Setahun setelah terjun di ring tinju, Welmy lolos ke PON XVII 2008 di Kalimantan Timur. Tinju perempuan pertama kali dipertandingkan di PON Kaltim. Turun bertinju di kelas 54kg di kompleks Olahraga Stadion Perjiwa, Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegera, Kaltim,  Emy mampu merebut medali emas dengan mengalahkan Suriati Mabiang (Sulawesi Utara) di partai final.

Baca juga: Tiga petinju Malut masih jalani TC di Jakarta, tunjukkan prestasi

Medali emas diraih Welmy menjadi sangat penting bagi Maluku sebab dengan begitu, Maluku merebut enam emas dan menempati peringkat 20. Peringkat ini lebih baik dari PON sebelumnya yakni urutan 25.

Empat tahun kemudian pada PON XVII 2012 di Riau, Welmy kembali masuk final kelas 57kg. Ia bertemu petinju NTT Maria Imaculata Loda. Welmy kalah dalam suatu duel kontroversial dan hanya merebut perak.

Pada PON XIX tahun 2016 di Jawa Barat, Welmy lagi-lagi tampil di babak final. Ia bertemu petinju Papua Salamina Yerisitouw di kelas 64kg. Dalam duel empat ronde, Welmy menang angka untuk menggenggam emas.

Penampilan terakhir Welmy di atas ring adalah saat kejuaraan Pra PON XX Papua di Bogor. Pada babak final, Welmy menekuk petinju Nusa Tenggara Barat (NTB) Riza Prastik. Dengan hasil itu, Welmy menjadi satu-satunya petinju puteri Maluku yang lolos ke PON Papua.

Welmy juga tercatat dua kali memperkuat Indonesia di Sea Games 2009 dan 2011 dan mempersembahkan medali perunggu untuk panji Merah Putih.
PON Terakhir Emy yang kini berkarier sebagai pegawai negeri Sipil (PNS) di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Maluku, benar-benar telah mempersiapkan diri untuk "baku pukul" di PON Papua. Ia membulatkan tekadnya menjadikan PON Papua sebagai ajang terakhir karier "baku pukul" di ring tinju amatir.

"Beta (saya) sudah mantap untuk melepas sarung tinju. Umur sudah tua, beta su seng kuat lai (saya sudah tidak kuat lagi). Beta ingin mempersembahkan medali emas untuk Maluku di penghujung karier bertinju," ujarnya.

Emy tercatat tiga kali ikut PON mewakili provinsi Maluku dan mempersembahkan dua medali emas dan satu perak di ajang multi cabang itu. "Sebenarnya beta sudah tidak mau, tetapi karena masih diminta tampil, jadi beta maju untuk terakhir kali. Beta ingin menutup karier bertinju dengan manis," katanya.

Seiring bertambah usia, Emy memandang kekuatan dan kemampuannya semakin menurun, tidak selincah saat-saat memulai karier di cabang olahraga keras itu. "Baku tikam palungku sampai berdarah-darah (saling bertukar pukulan sampai berdarah) di atas ring itu sudah biasa. Tetapi semua ada batasnya seiring bertambahnya usia," ujarnya.

Menghadapi PON Papua sebagai ajang terakhir, Emy terus berlatih mengasah kemampuan, taktik dan teknik bertinjunya di bawah asuhan pelatih Agus Titaley dan Teko Lewaherilla.

Dalam pemusatan latihan yang telah berlangsung sejak April 2021, Emy menjadi satu-satunya perempuan penghuni kamp Pertina Maluku di kawasan Karang Panjang Kota Ambon. Ia harus rela berlatih bersama tiga petinju petinju pria yang lolos ke PON. Ketiganya memiliki sparing partner untuk mengukur kemampuan, sedangkan Emy hanya sendirian melatih kecepatan dan teknik secara bergantian dengan kedua pelatihnya.
 

Baca juga: Mikaela Mayer batal naik ring karena positif COVID-19

Pelatih Kepala Tim Tinju Maluku Agus Titaley juga mengaku kesulitan mendapatkan sparing partner yang seimbang untuk Welmy, karena kebanyakan petinju perempuan telah hengkang ke daerah lain. Begitu juga rencana tryout ke DKI Jakarta dan Manado Sulawesi Utara untuk mengukur kemampuan para petinju juga dibatalkan karena pandemi COVID-19.

"Jadi mereka berangkat ke PON Papua tanpa uji tanding. Tetapi persiapan mereka sudah sangat matang, apalagi Welmy dan tiga petinju putra lainnya adalah petinju senior dan banyak pengalaman bertanding," ujar Agus.

Agus optimis empat petinju Maluku mampu memenuhi tradisi dua medali emas dari cabang unggulan itu, sekaligus memperkuat peringkat Maluku di ajang olahraga terakbar di Tanah Air itu.

Bagi Welmy yang pengagum petinju legendaris Maluku Wiem Gomies, meraih emas terakhir ring "baku pukul" PON Papua akan terasa sangat istimewa. Jika berhasil, medali emas itu ia persembahkan untuk kedua orang tua dan saudara-saudaranya, juga untuk KONI dan seluruh masyarakat Maluku.

"Ini baku pukul terakhir, harus emas. Yang penting jangan ada kecurangan di atas ring. Beta hanya minta dukungan doa seluruh masyarakat Maluku agar bisa mempersembahkan yang terbaik," ujar Welmy di akhir perbincangan.

Baca juga: Halmahera Selatan akan gelar Kejurnas STE SIWO PWI 2021

Pewarta: Jimmy Ayal

Editor : Lexy Sariwating


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2021