Dinas Pariwisata  Provinsi Maluku mengakui layanan transportasi udara maupun laut sebagai akses untuk masuk dan keluar wisatawan ke Kecamatan Banda di Kabupaten Maluku Tengah masih minim dan perlu ditingkatkan lagi, guna mendukung pengembangan pariwisata di sana.

"Banda aksesnya telah terbuka, tetapi layanan transportasi laut maupun udara untuk askes pengunjung datang dan keluar mungkin juga harus kita tingkatkan lagi kualitasnya," kata Sekretaris Dispar Provinsi Maluku,  Rio Z.M. Pelu di Ambon, Selasa.

Ia mengatakan Kepulauan Banda memiliki potensi pariwisata, mulai dari wisata alam, bawah laut, sejarah, seni dan budaya serta kuliner beragam yang membuat Banda menjadi primadona bagi banyak wisatawan nusantara dan mancanegara. Potensi tersebut bisa menjadikan Banda sebagai lokomotif penggerak sektor ekonomi Provinsi Maluku di bidang pariwisata.

Potensi pariwisata yang baik perlu didukung dengan berbagai kemudahan layanan transportasi yang bisa diakses oleh wisatawan yang ingin berkunjung ke sana. Akan tetapi saat ini transportasi udara dan laut yang menjadi akses masuk dan keluar ke Banda masih minim.

Tidak hanya itu, layanan internet sebagai salah satu pendukung utama pariwisata juga menjadi masalah utama di Kecamatan Banda. Selain Pulau Neira yang menjadi pintu masuk utama ke Kepulauan Banda, pulau-pulau lainnya masih minim layanan jaringan internet.

Hal ini, kata Rio, perlu dukungan dan kerja sama lintas sektoral. Seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) diharapkan bisa bahu-membahu mendorong daerah itu menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

"Kalau bicara pariwisata itu bukan hanya Dispar, ada keterkaitan seluruh sektor. Harapannya ketika semua dinas, OPD maupun badan dan lembaga-lembaga terkait lainnya seperti Telkom dan Telkomsel termasuk juga kementerian di pusat bisa mendukung pariwisata itu akan menjadi sebuah hal yang positif bagi kami," kata Rio. 

Sedankan, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kecamatan Banda, Rizal Bahalwan dalam keterangan terpisah juga mengakui hal yang sama, layanan transportasi dan jaringan internet masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di Kepulauan Banda.

Beberapa wilayah yang sering dikunjungi wisatawan untuk menginap seperti Pulau Ay, Run, Lothoir dan Pulau Hatta tidak semuanya memiliki jaringan internet yang bagus. Selain itu, layanan kesehatan juga minim, hanya ada satu rumah sakit di sana, yakni Rumah Sakit Umum Banda Naira.

Hal ini juga yang menjadi kendala utama bagi pariwisata di Banda, terutama di masa pandemi COVID-19. Kendati akses ke daerah itu sudah dibuka, wisatawan cenderung akan berhati-hati berkunjung ke sana karena kurangnya layanan kesehatan.

"COVID-19 membuat pariwisata mati suri karena pembatasan bepergian, apalagi dengan transportasi yang limit, layanan kesehatan juga sedikit dan alat-alat inkubator juga tidak ada, sehingga orang cenderung berhati-hati untuk datang ke Banda," kata Rizal.

Pewarta: Shariva Alaidrus

Editor : Lexy Sariwating


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2021