Anggota DPR RI mendukung penuh atraksi "pukul sapu lidi" dari Negeri Morella dan Mamala, Maluku Tengah, Maluku dijadikan sebagai kegiatan nasional.

Hal ini disampaikan aggota DPR RI dari Dapil Maluku, Saadiah Uluputty, usai menyaksikan atraksi tersebut, Rabu. Sebenarnya ini harus diusulkan oleh pemerintah provinsi ke pusat agar menjadi kegiatan nasional,” katanya di Morella, Maluku Tengah.

Menurut dia, kalender kegiatan nasional itu harus diusulkan dari bawah, yakni dari pemerintah provinsi, sehingga dukungan anggaran dan sarana prasarana yang diperoleh juga besar.

“Jadi bukan saja kegiatannya besar di lokal, tetapi juga di kalangan nasional. Jadi sebisanya dari pusat juga mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya mengangkat kebudayaan lokal seperti atraksi "pukul sapu lidi" ini menjadi bagian dari ajang nasional, karena dapat memperkaya dan memperluas cakupan kebudayaan Indonesia di mata dunia.

"Atraksi pukul sapu lidi merupakan warisan budaya yang unik dan menarik, yang memang pantas untuk dijadikan bagian dari kegiatan nasional,” katanya menambahkan.

Ia mendorong Pemerintah Provinsi Maluku segera mengajukan usulan resmi kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk memasukkan atraksi "pukul sapu lidi" ke dalam daftar kegiatan budaya nasional yang didukung oleh pemerintah pusat.

"Kami berkomitmen untuk terus mendukung dan memperjuangkan keberagaman budaya Indonesia. Dengan mengangkat atraksi 'pukul sapu lidi' sebagai kegiatan nasional, kita dapat menghargai dan memperkuat keberadaan budaya-budaya lokal di seluruh Nusantara," ucapnya.

Atraksi "pukul sapu lidi" sendiri sudah menjadi tradisi turun temurun sejak tahun 1646, yang dilaksanakan setiap tujuh hari setelah Lebaran.
 

Atraksi budaya "pukul sapu lidi", di Morella, Maluku Tengah, Rabu. ANTARA/Winda Herman

Dalam bahasa daerah Morella, masyarakat menyebutnya "palasa" atau "baku pukul manyapu" yang artinya saling memukul dengan sapu lidi.

Pada pelaksanaannya, para peserta yang merupakan pemuda Morella dibagi dalam dua kelompok atau regu. Tiap regunya berjumlah minimal 10 orang dengan memakai celana pendek, bertelanjang dada, serta memakai pengikat kepala merah atau biasa disebut dengan "kain berang".

Sebelum para pemuda ini masuk arena, mereka terlebih dahulu menjalani ritual adat di baileo (rumah adat) oleh tua-tua adat.
 

Pewarta: Winda Herman

Editor : Daniel


COPYRIGHT © ANTARA News Ambon, Maluku 2024